Halaman

Rabu, 14 Desember 2022

Cerpen - Kasus Nama

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 42/XXV)

Ina sedang menyiram bunga di pekarangan samping rumah. Matanya terus mengamati bunga-bunga yang bermekaran. Sampai ia terkejut ketika namanya dipanggil-panggil dari seberang pagar yang membatasi pekarangan rumah sebelah.

"Ina ... Ina ke sini!" suara itu terdengar lagi. Jelas itu suara anak lelaki. Tapi Ina tidak mengenali suara itu. Ia tahu ada tetangga yang baru pindah ke rumah itu dua hari lalu.
Ina naik ke atas batu yang menempel di bawah pagar. Kepalanya menyembul melihat ke pekarangan tetangganya. Seorang anak laki-laki sebayanya tengah asyik bercanda dengan seekor anak anjing.

"Ayo Ina, lompat!" anak laki-laki itu menyeru lagi.
Muka Ina langsung pucat. Ia baru sadar kalau nama yang disebut-sebut anak itu bukan ditujukan padanya melainkan kepada anak anjing berbulu putih hitam itu.

"Hey!" panggil Ina agak keras. Anak lelaki itu langsung menatap ke arah Ina. Ia sudah mengetahui keberadaan Ina sejak tadi. "Aku sarankan padamu, sebaiknya nama anjing itu kamu ganti."
Anak lelaki itu mengerutkan dahinya. "Mengapa harus kuganti? Nama itu kan kedengarannya lucu," sahutnya.
"Tapi kan kamu tidak tahu kalau nama itu sama dengan namaku. Bagaimana kalau sampai teman-temanku mengetahuinya?"
"Itu urusanmu."
Muka Ina berlipat kesal. Rupanya anak ini harus dibujuk, pikirnya. "Hey, memangnya kenapa sih kamu keberatan mengganti nama anjing itu? Kan lebih bagus kalau kamu ganti dengan Snowi, Tintin, atau Skipi," suara Ina agak merayu.

"Tidak bisa. Anjing ini kenang-kenangan dari sahabatku sebelum pindah ke sini. Ia yang memberi nama itu. Kalau ia sampai tahu aku mengganti nama yang ia berikan, nanti aku dianggap tidak bisa menghargai kenang-kenangan darinya," jelas anak laki-laki itu.
Mulut Ina terkatup rapat. Kasusnya jadi semakin buntu.

"Bobi ... Bobi! Sudah sore kamu belum mandi juga. Nanti Mama pulang baru tahu rasa!" suara teriakan terdengar bersamaan dengan keluarnya anak perempuan yang umurnya dua tahun di atas Ina.

Anak lelaki bernama Bobi itu bergegas meninggalkan pekarangan sambil berteriak, "Ina, ayo kita mandi dulu!"
Ina cuma bisa mendengus kesal. Kekesalannya terus berlanjut ketika ia di sekolah esok paginya. Tentu hal ini mengundang tanya teman-temannya. Selama ini Ina dikenal paling ceria.

"Kamu tidak dikasih uang jajan sama mamamu, ya?" tanya Idong di waktu istirahat. Tapi Ina cuma menggeleng.
"Terus kenapa?" tanya Wini.
"Aku mau cerita, tapi kalian harus janji tidak menertawakannya," Ina memberikan syarat.
Idong, Wini, dan Herman mengangguk seketika karena tidak sabar. Setelah menarik napas sebentar, Ina menceritakan semua yang dialaminya kemarin sore. Dan secara bersamaan semua terbahak-bahak setelah Ina menghabiskan ceritanya.

"Kalian kok malah ketawa, bukannya membantu aku menyelesaikan masalah ini," protes Ina.

Serentak Idong dan Wini terdiam lalu mata mereka menatap ke arah Herman. Ia memang dikenal banyak akal. Dari masalah pertengkaran sampai pencurian di kelas pernah diselesaikannya.

"Aku ada akal untuk menyelesaikan kasus ini. Ina, kamu tahu nama tetangga barumu itu?"
"Bobi. Aku mendengar kakaknya menyebut namanya demikian kemarin."
"Bagus. Lantas di antara kalian ada yang punya hewan peliharaan di rumah?"
"Aku punya kucing," jawab Idong.
"Aku punya kelinci," timpal Wini.
"Ah, itu kurang seru. Begini saja. Pamanku punya seekor monyet. Kamu tidak takut dengan monyet kan, Ina?"
"Monyet? Untuk apa?"
"Kalau tidak takut, kita lihat saja hasilnya nanti sore."

Sekitar pukul empat sore Bobi tengah duduk di pekarangan rumahnya sambil memperhatikan anjing kecil di dekatnya. Ia merasa bosan tinggal di rumah. Kalau saja ia pindah ke sekolah seperti anak-anak di kompleks ini, tentu ia mudah mendapatkan teman.
"Bobi! Ayo makan pisangnya!"

Suara itu terdengar jelas di telinga Bobi. Datangnya dari seberang pagar rumah. Ia beranjak penasaran untuk melihat ke seberang pagar. Dilihatnya Ina tengah memberi sebuah pisang ke arah monyet kecil. Mata Bobi langsung membesar seketika.
"Hey, rupanya kamu dendam sama aku. Kamu pasti sengaja memberi nama monyet itu seperti namaku."
Ina memandang ke arah Bobi. "Bagaimana aku tahu kalau nama monyet ini sama dengan namamu? Sebagai orang baru di sini kamu kan tidak pernah memperkenalkan diri."
Bobi merasa diserang.
"Lagian kalau monyet ini tidak dipanggil Bobi, tidak pernah mau makan. Kasihan kan kalau dia sampai kurus kering karena namanya kuganti."

Bobi menyerah kalah. "Baiklah, tolong ganti nama monyet itu. Kalau kamu mengusahakannya sedikit-dikit, pasti monyet itu mau mengerti. Dan aku akan janji mengganti nama anjingku."
"Lho, nanti sahabat lamamu itu marah."
"Ah, sebenarnya aku kemarin mengada-ada saja. Anjing itu pemberian pamanku. Nama sebenarnya Skuli. Aku cuma iseng saja mencari cara agar bisa berkenalan dengan kamu. Kebetulan aku sering mendengar namamu disebut-sebut. Tapi untuk berkenalan langsung denganmu aku tidak berani."

Ina manggut-manggut. Ia dapat memahami apa yang diucapkan Bobi. "Kalau begitu melompatlah kemari. Kebetulan teman-temanku juga ada di sini. Nah, itu Idong, Wini, dan Herman," ucap Ina ketika teman-temannya muncul dari persembunyian di balik tembok.

Bobi terkejut tidak menduga ada orang lain di antara mereka berdua. Dalam beberapa menit saja Bobi sudah bermain akrab dengan mereka. Pertengkarannya dengan Ina tidak pernah diingatnya lagi.

Kamis, 01 Desember 2022

Cerpen - Paparazzi Kampung

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 41/XXV)

Mita mendapat kiriman dari Paman Eko di Jepang. Sebuah kamera saku otomatis lengkap dengan telenya. Warnanya seperti pelangi dan bisa dilipat. Bukan alang kepalang girangnya Mita mendapat kamera itu.
"Akhirnya cita-cita Mita menjadi paparazzi akan segera terwujud," gumam Mita sambil berkeliling ruang tamu.

"Kalau anak perempuan namanya bukan paparazzi, Kak Mita, tapi mamarazzi," sela Ugi yang mendapat kiriman sepatu kelinci.
"Hush, ya tidak bisa. Paparazzi ya paparazzi. Tidak ada mamarazzi, anakrazzi, kakekrazzi, nenekrazzi ..." timpal Mita.
"Memangnya papalaci itu apaan?" tanya si bungsu Tio.
"Baca makanya majalah Bobo. Mama beli majalah itu buat dibaca kita semua. Jangan cuma ngambil bonusnya. Di majalah Bobo kan pernah diceritakan tentang paparazzi. Bukan papalaci."
"Iya, papalaci. Tio kan masih cadel."

Mita makin merasa beruntung ketika Mama memberinya satu roll film untuk dimasukkan ke dalam kamera. "Ingat, kameranya harus terbuka lensanya," pesan Mama.
"Ini kan kamera otomatis. Kalau lensanya tertutup tidak akan bisa dipencet tombolnya," jelas Mita. Ia sudah tidak sabar lagi ke luar rumah. Sambil menenteng kamera barunya, Mita berkeliling di Kampung Cemara.
Wini yang sedang keselek makan bakso langsung difotonya. Klik! Dodi yang sedang kesakitan kena lempar bola kasti. Klik! Toto yang sedang diseret ibunya untuk mandi sore. Klik! Andi yang terbirit-birit dikejar anak anjing. Klik! Lupita dengan sepeda roda tiga adiknya. Klik! Klak! Kluk! Klok! Tidak terasa Mita seharian telah menghabiskan satu gulungan film.
Mita terpaksa membuka celengannya untuk mencuci dan mencetak film. Tak apa-apa, nanti aku kan mendapat gantinya, pikir Mita yang sudah punya rencana. Selain itu ia memang sudah tidak sabar melihat hasil foto buruannya.

Di rumah Ugi dan Tio tak hentinya tertawa melihat foto-foto yang dipamerkan Mita. Semuanya begitu lucu.

"Lantas mau dikemanakan foto-foto ini?" tanya Ugi.
"Tunggu saja besok. Aku akan menjadi kaya karena foto-foto itu," pikiran Mita melayang jauh.
Besok siangnya selepas sekolah Mita langsung mendatangi teman-teman yang difotonya satu persatu. Hampir semuanya langsung pucat dan malu melihat hasil foto Mita.
"Jangan takut aku tidak akan menunjukkan foto ini pada orang lain. Pokoknya aku tunggu sore nanti di rumah untuk menebus foto ini," kata Mita kemudian.
"Wah, ini namanya pemerasan," kata Dodi.
"Ih, memangnya baju diperas segala," timpal Mita tidak mempedulikan.
Karuan saja teman-teman Mita jadi saling mengunjungi. Mereka kemudian berkumpul untuk memecahkan persoalan mereka. Yang jelas mereka tidak ingin Mita mendapat untung sementara mereka mengalami kerugian yang memalukan.
"Kita biarkan saja foto-foto itu. Jangan ada yang menebusnya. Nanti dia akan mengulanginya lagi," usul Toto.
"Tapi bagaimana kalau fotoku tersebar kepada anak-anak yang lain?" keluh Wini yang menyadari betapa jelek wajahnya di foto itu.
"Ya, kita ingatkan teman-teman yang lain agar tidak melihat foto-foto kita. Diberitahu saja bahwa mereka juga nanti akan mendapat giliran," sahut Andi.

Semua akhirnya bersepakat untuk tidak menebus foto mereka ke rumah Mita. Sementara Mita terbengong-bengong di rumah menunggu kedatangan teman-temannya. Rupanya cita-cita Mita jadi paparazzi tidak terkabulkan.
Kling klong. Bel rumah berbunyi. Mita dengan penuh harap memburu pintu depan. Ia mengintip dari jendela. Mukanya mendadak pucat ketika mengetahui yang datang ternyata dua orang lelaki berseragam polisi. Mita membatalkan niatnya membuka pintu.
"Ma, ada tamu di luar," teriak Mita di depan kamar Mama. Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar. Mengapa ada polisi datang ke sini? Mita membatin. Jangan-jangan teman-temannya melaporkan kegiatannya ke polisi? Ah, masak sih sampai sejauh itu.

"Mita ... Mita," seru Mama terdengar dari luar kamar.
Mita bukan keluar kamar, malah masuk ke kolong tempat tidur. Tubuhnya seperti kian menciut ketika Mama masuk ke dalam kamar.
"Mita di mana kamu? Itu ada Pak Polisi mencari kamu. Aduh, sedang apa kamu di kolong ranjang, Mita? Nanti ada kecoak baru tahu rasa!" ujar Mama yang menemukan Mita saat berjongkok.
Mendengar Mama menyebut kecoak, Mita langsung ke luar dari kolong ranjang.
"Mau apa Pak Polisi mencari Mita, Ma?" tanya Mita kemudian.
"Kamu pasti belum mendengar berita pencurian di rumah Pak Broto kemarin. Nah, Pak Polisi itu sedang menyelidiki pelakunya. Tadi Pak Polisi sudah wawancara beberapa orang. Ternyata Andi memang melihat ada mobil berhenti di depan rumah Pak Broto. Tapi karena ia sedang dikejar anjing, Andi tidak begitu mengingat persis mobilnya. Lantas Andi menyebutkan bahwa kamu juga ada di sana saat itu. Malah sempat memotret di sana," tutur Mama.

"Mobil di depan rumah Pak Broto? Tunggu sebentar. Kalau tidak salah mobil itu terfoto kemarin." Mita segera memeriksa hasil fotonya kemarin di atas meja. Diambilnya foto saat Andi dikejar anjing. Di bagian pinggir foto itu jelas terlihat sebuah mobil berwarna coklat dari belakang terparkir di depan rumah Pak Broto. Nomor plat mobilnya meski kecil masih dapat dilihat. "Ini fotonya, Ma. Biar Mita yang berikan kepada Pak Polisi."

Mita mengikuti Mama ke ruang tamu. Kali ini ia tidak cemas lagi. Malah Mita memberanikan diri bercerita panjang lebar mengenai foto hasil bidikannya itu.
"Boleh kami minta foto ini untuk bahan penyelidikan?" pinta Pak Polisi kemudian.
"Wah, sebenarnya foto ini mau saya jual, Pak," kata Mita.
"Mita, masak untuk kebaikan mau kamu jual juga. Biar nanti Mama yang ganti," sela Mama.
Mita tersenyum. "Tidak usah, Ma. Pak Broto kan orangnya sering menolong. Mita dengan senang hati juga mau menolong," timpal Mita kemudian.

Kedua Pak Polisi itu segera pamit. Mita kembali ke kamarnya dengan hati riang. Biarlah teman-temannya tidak perlu menebus foto-foto mereka, Mita berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namanya juga paparazzi kampung. Yang jelas ia merasa bangga bisa membantu Pak Polisi menangkap pencuri di rumah Pak Broto.

Dari webarchive pacific.net.id, arsipan 14 Februari 1998

Selasa, 29 November 2022

Kotak Pos 313 - Nama-Nama Tokoh

 Dear, Donal Bebek,

Sangat menyenangkan saya bisa ikut berbagi cerita di ADB sekalipun saya telah berusia 41 tahun (di 2012).

Ada satu hal yang dari dulu menarik perhatian saya di ADB yaitu nama-nama tokoh dalam cerita ADB dengan meniru nama tokoh, aktor, ataupun profesi yang dilainkan sedikit (menurut saya lho, karena namanya sangat mirip). Saya memberikan pujian untuk tim redaksi ADB, terutama tim kreatifnya. Mereka sangat kreatif dalam memberikan nama pada tokoh-tokoh cerita Donal Bebek, contohnya sebagai berikut:

  1. Indiana Joni (gubahan dari film Indiana Jones), ADB 1233, hal. 4
  2. Cak Nuris (gubahan dari nama aktor Chuck Norris), ADB 1532, hal. 23
  3. Kano Nano (gubahan dari nama aktor Rano Karno), ADB 880, hal. 19
  4. Zan Tarazan (gubahan dari nama aktor Tarzan "Srimulat"), ADB 880, hal. 19
  5. Vinsen van Dong (gubahan dari nama pelukis Vincent van Gogh), ADB 786, hal. 3
  6. Dudi Kabuseh (gubahan dari nama mentalist Deddy Corbuzier), ADB 1541, hal. 3
  7. James Bondol (gubahan dari film James Bond), ADB 1553, hal. 41
  8. Philo T. Elis (profesi kolektor perangko), ADB 1540, hal. 11
  9. Dr. Jiwani (profesi psikiater), ADB 1180, hal. 4
  10. Dr. Insomnia (profesi dokter), ADB 1550, hal. 14
  11. Penerbit Gramekita (gubahan dari Penerbit Gramedia), ADB 880, hal. 6
Masih sangat banyak lagi nama-nama tokoh cerita yang sangat lucu dan SANGAT KREATIF ... dan yang saya ambilkan contoh di atas hanya sebagian kecil dari nama-nama yang saya sadur dari koleksi saya belakangan ini. Saya sendiri mulai langganan Album Donal Bebek sekitar usia 11 tahun, bahkan sejak tahun 2005, saya berlangganan dengan membayar setahun dimuka. Saya ingat sekali dulu saya sudah punya kumpulan nama tokoh tersebut dalam sebuah buku catatan yang saya sangat sesalkan hilang karena pindah rumah beberapa kali. Belakangan ini, saya mulai kumpulkan lagi karena sangat lucu, kreatif, dan atraktif.

Sekarang, koleksi-koleksi ADB tersebut saya bawa untuk saya baca di kantor terutama setiap saat makan siang, karena biasanya saya makan di atas meja kerja saya (sambil cekikikan sendiri). Sungguh sangat luar biasa cerita-cerita di ADB, yang sudah sangat menghibur saya di sela-sela kesibukan saya sampai menemani saat menjelang tidur.

Anak saya yang sulung pun semenjak setahun terakhir selalu baca ADB, baik yang baru datang, maupun koleksi ADB saya yang sudah lama.
Aplaus untuk Album Donal Bebek...

Salam,
Ign. Frans Sujono

Wak! Redaksi Album Donal Bebek jadi tersandung, nih... eh, tersanjung maksudnya. Senangnya Frans juga menularkan rasa cinta terhadap ADB pada anaknya Frans. Semoga ADB tetap menjadi bacaan yang dapat menghibur Frans dan teman-teman lainnya. He he he...

Dari Album Donal Bebek 1606 (Edisi Khusus Olimpiade), 30 Juli 2012

Cerpen - Biodata Palsu

Oleh: Dr Bambang Mulyowidodo (Bobo No. 45/XXVIII)

Seperti biasa hari Sabtu, sepulang sekolah, Marko ke rumah Mas Budi, abangnya. Oleh Mas Budi, Marko disuruh melihat-lihat lukisan-lukisan hasil lomba melukis yang diadakan Sanggar Rahayu. Dewan juri, yang diketuai Mas Budi, telah menetapkan enam finalis untuk juara I sampai harapan III. Rencananya penyerahan hadiah akan dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun I Sanggar Rahayu yang jatuh pada tanggal 28 Februari 2000.

"Lihat-lihat saja Marko. Siapa tahu bakat detektifmu bisa menemukan keanehan dalam lukisan-lukisan itu," kata Mas Budi.

Marko memang dikenal sebagai detektif cilik di lingkungan rumah maupun di sekolahnya. Ia pernah berhasil menemukan perhiasan Ibu yang kelupaan ditaruh di mana hanya dengan memancing-mancing pertanyaaan kepada Ibu. Ia pernah berhasil menjebak pencuri uang Pak Bandi, wali kelasnya. Dan masih banyak lagi perkara-perkara yang dipecahkannya.

Marko meneliti lukisan-lukisan itu. Hampir semua bagus. Marko sendiri bingung menentukan juaranya. Bosan melihat lukisan, ia melihat biodata yang tertulis di belakang lukisan. Matanya agak terbelalak membaca biodata salah seorang finalis lomba.

"Kenapa dia harus memalsukan data ini?" tanyanya dalam hati. Otaknya terus berputar." O, barangkali…"

Marko tersenyum. Ia mengambil brosur pengumuman lomba lukis itu. Dibacanya persyaratan lomba:

Syarat peserta lomba lukis:
  • Umur peserta dibawah 10 tahun (belum berulang tahun ke sepuluh pada tanggal 28 Februari 2000)
  • Lukisan harus asli (bukan meniru)
  • Mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 10.000," (Sepuluh ribu rupiah)
  • Membawa peralatan sendiri pada saat lomba
  • Keputusan dewan juri mutlak, tidak dapat diganggu gugat
Senyum Marko bertambah lebar. Ia langsung menemui Mas Budi yang tengah membaca koran di teras rumah. "Saya tertarik lukisan ini, Mas!" katanya.

Mas Budi tersenyum. "Hebat! Lukisan itu memang terpilih menjadi pemenang pertama! Rupanya kamu punya selera seni yang tinggi."

"Tapi bukan itu masalahnya, Mas!"

"Lalu apa?"

"Pesertanya tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan."

"Persyaratan yang mana? Apa menurutmu ia meniru lukisan orang lain?"

"Bukan, bukan itu!" Marko membacakan biodata lomba peserta lomba itu.

Nama: Misbah
Tempat tanggal lahir: Tangerang, 29 Februari 1990
Alamat: Jl. Kesehatan No.1.

Selesai membaca biodata itu, Marko menyatakan alasannya kenapa Misbah tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. "Memang belum tentu ia tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Tetapi yang pasti ia telah membuat biodata palsu," kata Marko dengan yakin.

Marko menyarankan Mas Budi agar juara yang ditentukan sementara dinyatakan sebagai nominasi dan dewan juri supaya mempersiapkan satu orang nominator lagi sebagai juara harapan III. Siapa tahu, Misbah memang tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Marko juga menyarankan agar para nominator menyerahkan akte kelahiran atau bukti kelahiran dari rumah sakit atau bidan. Permintaan tertulis itu ditandatangani oleh ketua dewan juri dan akan diantarkan langsung oleh Marko. Mas Budi menyetujui usul Marko ini.

Jam empat sore, dengan mengayuh sepeda, Marko mengantarkan surat kepada para nominator seperti yang disarankan. Tentu saja yang pertama-tama dituju adalah rumah Misbah.

Misbah sedang menyiram bunga di halaman rumah ketika Marko sampai di sana. Setelah Marko menyampaikan maksudnya, Misbah memperkenalkan diri bahwa dialah yang Marko cari. Misbah segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Marko untuk duduk di kursi teras rumah.

"Aduh, sayang aku tak punya akte kelahiran atau surat kelahiran," kata Misbah agak gugup setelah membaca surat itu.

Bohong lagi! Marko berseru dalam hati. Tak mungkin orang tua Misbah yang mempunyai rumah sebesar ini, tidak mengurus akte kelahiran anaknya.

"Kalau begitu, kamu dinyatakan gugur dari nominasi. Kamu tidak akan menjadi salah satu pemenang."

"Ah, masak begitu."

"Ya. Kecuali kalau kamu menyerahkan fotocopy akte kelahiran atau surat kelahiran."

"Kalau begitu sudahlah. Tidak jadi juara pun tidak apa-apa," kata Misbah setengah kesal.

"Tapi rasanya tak mungkin deh, orang tuamu sekaya ini mengabaikan pembuatan akte kelahiran anaknya."

"Anu…. Bukannya tidak punya, tapi akte kelahiranku ada di rumah Nenek, di Surabaya."

"Misbah, kamu jangan terlalu banyak berbohong. Katakan saja kalau tanggal kelahiranmu bukan 29 Februari 1990."

"Betul. Itu tanggal kelahiranku!"

"Tapi bulan Februari 1990 hanya sampai tanggal 28. Tahu kamu, apa sebabnya Februari 1990 hanya sampai tanggal 28? Karena tahun 1990 bukan tahun kabisat. Tanggal 29 Februari hanya ada pada tahun kabisat, yaitu tahun yang habis dibagi empat, seperti tahun 1992, 1996, 2000 dan seterusnya. Nah, sebenarnya kamu lahir tanggal berapa?"

Misbah tampak pucat karena malu setelah mendengar penjelasan Marko.
"Benar kan kamu telah membuat biodata palsu?"

"Iya… saya mengaku telah membuat biodata palsu," kata Misbah terbata-bata. "Habis umurku melebihi persyaratan yang ditentukan. Sebenarnya aku lahir tanggal 3 Januari 1990. Aku memalsukan data itu supaya aku bisa ikut lomba."
Marko tersenyum mendengar penjelasan Misbah.

Dari Webarchive pacific.net.id, arsip per tanggal 16 April 2001

Senin, 28 November 2022

Coba Yuk - Indahnya Hand Made Sticker

Ini dia hasil stikernya! ^_^

Dimuat sebagai Yuk, Stiker Buatan Sendiri! di bobo.grid.id

Semua yang buatan sendiri, pasti lebih memuaskan. Termasuk, bikin stiker. Enggak susah, enggak rumit, dan hasilnya... ck ck ck...!

Kita Perlu:

  • 4 sendok lem putih
  • 1 sendok air
  • ½ sendok sabun cair
  • Kantong plasik bening
  • Cat akrilik atau cat poster
  • Kertas
  • Plastik mika untuk alas

Ini Rahasia Membuatnya:



1. Campur lem, air, dan sabun cair. Aduk hingga rata. Campur dengan sedikit cat akrilik/poster hingga mendapatkan warna yang diinginkan.


2. Masukkan setiap warna ke dalam kantong plastik bening, ikat yang kuat.

3. Gambarlah motif sederhana pada sehelai kertas

4. Lapisi kertas dengan plastik mika

5. Lalu, tebalkan gambar dengan adonan hitam di atas plastik mika. Tunggulah sekitar 1 jam hingga kering. Warnai bagian dalam dengan warna pilihanmu. Kemudian, tunggu lagi hingga kering.

6. Setelah kering, angkatlah gambar dari plastik.

Mana Stikernya? Nah, sesudah diangkat, kamu bisa menempel gambar itu pada benda-benda dari kaca atau plastik. Jadi, deh, hand made sticker! Indah, kan? (pipit)

Foto:Ricky Martin
Kreasi:Yoan A.D. Nayoan
Model:Ruth Fransiska
Pengarah Gaya & Busana:Ria Himawan
Stylist:Baby

Dari Majalah Kreatif edisi 01/2011

Pernah diunggah di Instagram dan Twitter
Instagram:

Twitter:

Mailbox - Ditipu Ultima Edisi 31

Facebook Adry Wibowo untuk GAME JADUL
Mohon maaf apabila ada kesalahan ketik, gambarnya pecah soalnya.

QUESTION
Wah, wah, perubahan yang dilakukan Ultima ini bener-bener gak OK (menurut gua sih kali). Rasa-rasanya kayak ditipu ULTIMA waktu liat Holy Knights nya (di UNG 31 sepertinya?) sama dengan edisi 30. Ada apa sih ini? Next, di Jakarta beda waktu antara ULTIMA 30 dan 31 deket banget, tiap nanya ke kios, Ultima 30 belum keluar, pertama kali liat langsung beli eh... 3 hari kemudian udah ada Ultima 31? Ada apa sih ini?

Ultima Edisi 31 yang dimaksud, dari Tokopedia:Toko Buku Parnainggolan

Next, OPTIMA digabung sama ULTIMA?! Bukannya dulu ULTIMA misahin, kenapa sekarang digabung lagi? Dan keluarnya jadi 2 minggu sekali?? Terlalu mahal. Rasa-rasanya kayak kalau beli ULTIMA musti beli OPTIMA juga, apa oplah OPTIMA sebegitu buruknya? Dan kalau dikalkulasi kok lebih mahal daripada beli OPTIMA dan ULTIMA setiap bulan yah (OPTIMA 10.000 + ULTIMA 15.000 kan seharusnya 25.000)?? Bener kan OPTIMA 10.000? Kalo OPTIMA kurang laku, ya distop aja. Kalau ini kemauan Jawa Pos, remember ULTIMA itu advance, jangan telantarin pembaca demi Jawa Pos. Lagipula, jumlah halaman gak bertambah, berarti porsi ULTIMA terpotong buat OPTIMA.

Next, katanya penggabungan ini supaya menaikkan kualitas cetak, nyatanya ULTIMA yang ada di tangan aku ini cetakannya miring-miring, cetakannya gak pas, warnanya ada yang geser, dan gak cuman 1-2 halaman yang begitu. Padahal yang dulu cuman cuttingnya yang gak pas, cetakannya masih lurus. Sisanya hampir di tiap halaman di bagian bawah atau atas ada putihnya, gak full warna (printingnya gak bener).

Aku gak tau apa ULTIMA majalah game paling bagus, tapi kalau dari sudut layout (graphic design) itu sudah paling bagus. Aku gak punya console manapun, tapi aku suka merhatiin perkembangan game dan ngeliatin artworknya. Gak tau nih apa ULTIMA ngasih respon atau nggak, tapi apapun respon ULTIMA, seharusnya ingat kalau ULTIMA bilang ULTIMA adalah majalah advance (yah, semacem itu lah) bahkan bilang ditunjukkan cuman buat orang-orang yang advance. Bukannya seharusnya majalah yang advance punya jadwal terbit yang pasti, tepat waktu, seharusnya punya kualitas cetak yang bagus, dan lain-lain. Karena, selama aku ngikutin ULTIMA, aku gak pernah tau jadwal terbitnya ULTIMA. Apakah itu caranya orang-orang advance di ULTIMA?

Mungkin, ada yang lebih suka format ULTIMA 31, tapi inget, ULTIMA sendiri yang sengaja memisah OPTIMA dengan ULTIMA. Aku punya filosofi: Seseorang yang disebut 'pahlawan' mendapatkan sebutan itu bukan karena ia menyebut dirinya 'pahlawan', tapi karena orang-orang di sekelilingnya menganggap dia 'pahlawan' dan kemudian menyebutnya 'pahlawan'. Jangan memperlihatkan diri sendiri sebagai majalah advance, berusaha aja yang terbaik. Biar orang-orang yang menilai kalau ULTIMA tuh advance. |No hero will go to the street and shout out loud "I am a HERO..!!" but people around will whisper "be is a hero..." as he pass by.|

Gak mau dimuat juga gak papa (kalau bisa sih iya), tapi tolong direspon dan responnya jangan setengah2, kalo ada yang nggak bisa direspon, bilang aja ULTIMA salah. Just answer it all, honestly. Ya udah, segini aja, moga2 sih Ultima balik ke format lama. Nggak kuat kalo musti ngeluarin extra 15.000 buat sesuatu yang gua gak minat (OPTIMA).

Patikums <mushu_1st(at)yahoo(dot)com>

ULTIMA REPLY
1. Pertama-tama, kamu bisa membaca statement yang kami berikan pada edisi Ultima kali ini (32), bahwa Ultima edisi 30 dan 31 adalah berbeda. Ultima Next Generation (31) adalah terbitan Jawa Pos, sedangkan Ultima 30 masih buatan kru-kru lama sebelum pindah ke Jawa Pos. Jadi, bila kamu bingung dengan Optima yang akan dijadikan satu dengan Ultima, tanyakan saja ke Ultima Next Generation terbitan Jawa Pos. Optima milik kami akan terbit seperti biasa, dan tidak akan dijadikan satu lagi dengan Ultima. Kini, Ultima akan hadir dengan isi dan konsep baru (Ultima Cross). Kami akan hadir seperti biasa dengan harga yang lebih terjangkau (Rp. 12.500). So, send your critics into us, ok. We'll wait ^--
2. Wah, kamu rasanya salah persepsi dengan motto "Advance People Only". Karena Ultima menganggap semua pembacanya adalah orang-orang "advance" walaupun itu anak TK atau tukang jamu sekalipun hehehe. Maksud kami, dengan membaca Ultima, kamu akan menjadi orang yang lebih 'advance', karena kami di Ultima sebisa mungkin memberikan informasi-informasi terbaru dalam dunia game, yang akan menjadikan kamu selangkah lebih maju dari teman-temanmu yang lain. Jadi, "advance" di sini bukan maksudnya Ultima ditujukan untuk orang-orang kelas atas atau orang-orang pintar (saja). Yang 'advance' itu adalah kamu sendiri, para pembaca Ultima. Kami di sini? Tentu saja punya banyak kekurangan. Karena itu, sebagai sesama orang-orang advance, berikanlah kami kritik dan saran. Supaya kami bisa memperbaiki diri dan bisa memberikan yang terbaik untuk kalian semua.
Thank's for your letter. Write again, Patikums, OK. We'll be waiting.

Dari Majalah ULTIMA 32 (Versi Skywalker/UDA), Terbit Pertengahan 2002
Sumber:Adry Wibowo untuk Grup Facebook GAME JADUL

Minggu, 27 November 2022

Bobosiana - Doa Kita Buat Teman Korban Gempa

Dokumentasi Pribadi
Yogya dan Sekitarnya pada 2006, juga Cianjur dan Sekitarnya (saat ini tengah) diguncang gempa. Banyak sekali korban meninggal. Teman-teman kita kehilangan rumah dan sekolah. Sedih sekali. Ingiiin sekali bisa membantu. Tapi, apa yang bisa kita lakukan? Kita belum cukup kuat untuk membantu membereskan kerusakan yang ada. Kalau kita datang ke tempat bencana saat ini, mungkin malah merepotkan.
Namun, kita masih tetap bisa membantu dengan doa. Doa yang ikhlas kita panjatkan tentu akan didengar Tuhan. Tuhan mencintai hamba-Nya yang berdoa dengan ikhlas. Tuhan mencintai hamba-Nya yang peduli pada sesama. Setiap doa yang kita panjatkan buat teman-teman korban gempa menunjukkan bahwa kita peduli pada mereka. Jika Tuhan suka, tentu doa kita akan dikabulkan-Nya.
Doa yang ikhlas membuat hati kita merasa tenang dan tenteram. Semoga lewat doa, kita bisa mengirimkan rasa tenang dan tenteram itu pada teman-teman korban gempa. Jika hati teman-teman kita bisa tenang dan tenteram, kesedihan mereka tentu akan berkurang. Bahkan, bisa saja Tuhan memberi lebih banyak dari yang kita harapkan, karena Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Mari kita berdoa semoga Tuhan senantiasa menjaga teman-teman korban gempa. Amin.

- Koes Sabandiyah, Pemimpin Redaksi Majalah Bobo pada 2006 -

Sumber: Bobo 10/XXXIV/15 Juni 2006

Nur Ayu Chesty Maharani:Siapa Takut!

Sumber:Instagram @koleksimajalah_hai_

Cantik enggak, jelek apalagi, charming. Nur Ayu Chesty Maharani memang menggoda.

Godaan yang sulit ditolak bahkan oleh sebuah produsen shampo anti ketombe (baca:Clear) karena rambutnya juga keren.

"Sejak kecil, rambut itu sudah kurawat dan nggak pernah aku potong pendek", kata cewek penyuka warna biru itu bangga sebangga perasaannya ketika orang lain mengagumi rambut kerennya.

Selain rambut, pelanggan parfum Pleasure ini juga bangga dengan pinggulnya. Dalam bahasanya sendiri, ia menyebutnya dengan indah. Besar enggak, kecil pun enggak. Pas.

Rani memang pede dan berani. Jangan kaget kalau cewek asli Jawa ini berani bersikap beda dengan orang lain.

Misalnya, arti kata profesional. "Bukan berarti aku nggak pro kalo nggak difoto terlanjang. Aku mempertimbangkan kondisi masyarakat. Mereka belum siap menerima pose-pose kayak gitu."

Toh, cewek yang lahir dan besar di ibukota ini mencoba bersikap bijak. "Foto-foto itu jangan melulu dituturkan jorok atau porno, tapi sebaiknya dilihat sebagai karya seni."

Sejak ikut kontes cewek sampul sebuah majalah remaja (baca:Cover Girl Majalah MODE) tahun 1996, Rani makin akrab dengan dunia modeling. Profesi yang masih sering melekatkan kesan negatif. Terutama tampilan seronok yang diperagakan sejumlah model.

"Itu hak mereka, asal siap menanggung reaksi dicap macam-macam, seperti vulgar dan lain-lain." Kata puteri kesayangan pasangan Yusuf Begonondo dan RA Ratna Yudiati ini.

Yang mengagetkan, Rani sangat OK berteman baik dengan cowok gay, yang dianggapnya adalah teman yang baik.

"Bukan hanya karena mereka nggak suka ngelaba. Tapi, meski fisiknya cowok, mereka punya sifat cewek yang nggak dimiliki cowok tulen. Mereka bisa lebih ngerti perasaan cewek dan bisa jadi pendengar yang baik." Cerocos cewek yang terikat sama agen model Portfolio ini.

Rani memang pemberani. Berani bicara apa adanya meski berisiko beda dengan lingkungannya. "Siapa Takut!" (ichwan/angry)


Nama Lengkap: Nur Ayu Chesty Maharani

Nama Panggilan: Rani

Lahir: Jakarta, 6 April 1980

Berat/Tinggi: 47 kg/169 cm

Makanan Favorit: Italian food

Minuman Favorit: Air mineral

Parfum Favorit: Pleasure

Warna Favorit: Biru

Aktor Favorit: Keanu Reeves

Musisi Favorit: TLC, Brandy

Pendidikan: D3 Public Relations di Interstudi

Hobi: Baca, Musik, Nonton, Joging


Dari Majalah HAI 27/XXII/16 Juli 1999

Sumber Postingan: