Dari Three Bald Spots, Joanne R. Butler, disadur oleh Kiki Dewanti (Bobo No. 24/XXIX)
Suatu hari, Marty mengundangku dan teman-teman ke pesta ulang tahunnya.
"Mama akan memotong rambutmu sebelum kau pergi ke pesta Marty," kata Mama.
"Potong sedikit saja ya, Ma."
"Tapi rambutmu sudah terlalu panjang," sahut Mama, sambil mulai menggunting rambutku. Cekrik … cekrik … cekrik…
Aku melihat ke cermin. Ah, Mama benar-benar memotong pendek rambutku. Wah, gawat! Sekarang pitak di kepalaku terlihat jelas. Tiga pitak yang selama ini tersembunyi di balik rambut panjangku! Oh, sekarang aku tak bisa bersenang-senang di pesta Marty, pikirku sedih.
Apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku memakai topi koboi untuk menutupi pitak yang memalukan itu.
"Mengapa kau memakai topi koboi?" tanya Joe, ketika aku bermain di luar.
"Cuma kepingin saja," jawabku.
"Tapi hari ini sangat panas," protes Diane. "Nanti kepalamu keringatan!."
"Kepala keringatan malah sehat," sahutku tak mau kalah. "Keringat akan membuat rambut tumbuh lebih cepat."
Syukurlah, Diane dan Joe percaya pada omonganku.
"Kami akan pergi membeli hadiah untuk Marty," kata Diane. "Ikutan, yuk."
"Oke," kataku. Tapi mungkin aku tak akan datang ke pesta Marty, tambahku dalam hati. Sekarang aku punya tiga pitak di kepala, dan harus memakai topi koboi untuk menutupinya.
"Mengapa kau memakai topi koboi?" tanya si pelayan toko.
"Karena ia kepingin," jawab Joe.
" Karena ia suka kepalanya keringatan," tambah Diane.
"Kepala keringatan membuat rambut tumbuh lebih cepat," Joe dan Diane menjawab bersamaan.
Ah, benar-benar teman yang baik. Mereka tahu apa yang harus dikatakan.
Keesokan harinya, aku juga memakai topi koboi ke sekolah.
"Mengapa topimu tidak kau lepas?" tanya Pak Guru.
"Maaf, Pak. Saya harus tetap memakainya," jawabku dengan tampang sedih. Aku harus menutupi pitak di kepalaku, tambahku dalam hati.
Saat makan malam, aku tetap mengenakan topi koboi.
"Lepaskan topi itu saat duduk di meja makan," perintah Papa.
Aku melihat ke arah kepala Papa yang berpitak lebar, alias botak. Terpaksa aku melepas topi koboiku. Lalu aku masuk ke kamar tidur, dan mengunci pintu. Aku berkaca di cermin, untuk melihat apakah rambutku sudah tumbuh. Yah, ternyata belum. Padahal besok pagi pesta ulang tahun Marty. Terpaksa aku tidur dengan tetap memakai topi koboi. Agar kepalaku keringatan sepanjang malam.
Bangun pagi, aku langsung berkaca lagi di depan cermin. Yah, ternyata pitak yang memalukan itu masih juga kelihatan.
Joe dan Diane sudah menjemputku untuk pergi ke pesta Marty.
"Kau sudah siap, kan?" tanya Joe.
"Ya," sahutku agak malas. Tapi aku tak akan bisa bersenang-senang di pesta," tambahku dalam hati.
"Kau pergi dengan memakai topi koboi?" tanya Diane keheranan.
"Ya," aku menjawab tegas. Tak seorang pun pergi ke pesta ulang tahun dengan tiga pitak di kepala, kataku paada diri sendiri.
Ding … dong … ding… dong… Kami menekan bel pintu rumah Marty. Mama Marty menyambut kami dengan ramah.
"Semua anak sudah berkumpul di sini," mama Marty menjelaskan. "Sayangnya Marty ngambek. Ia tidak mau keluar dari kamarnya."
Aku naik ke lantai atas, dan mengintip ke dalam kamar tidur Marty. Marty sedang berkaca di depan cermin dan menangis.
"Mengapa kau tidak mau keluar?" tanyaku dari luar kamar.
"Tidak," suara Marty sedih. "Tampangku memalukan sekali."
Kulihat Marty mengenakan setelannya yang terbaik. Kupikir ia ganteng juga.
"Menurutku, kau tidak memalukan Marty," aku berusaha menghiburnya.
"Tahukah kau? Mama memotong rambutku terlalu pendek. Sehingga pitak di kepalaku terlihat jelas," Marty membuka pintu.
Benar! Kepala Marty pitak, sama seperti kepalaku. Wah, rupanya kami bernasib sama. Aku tak bisa menahan tawa. Kulepas topi koboiku, dan kuperlihatkan tiga pitak di kepalaku padanya.
"Selamat ulang tahun, Marty," kujabat tangan temanku sambil tersenyum.
Marty malah tertawa! Ah, kini kami tak perlu bersedih lagi.
Kami turun ke lantai bawah bersama-sama. Dengan pitak di kepala, tanpa topi koboi lagi!

