Halaman

Senin, 29 Januari 2024

Cerpen - Gara-Gara Pitak di Kepala

Dari Three Bald Spots, Joanne R. Butler, disadur oleh Kiki Dewanti (Bobo No. 24/XXIX)



Suatu hari, Marty mengundangku dan teman-teman ke pesta ulang tahunnya.
"Mama akan memotong rambutmu sebelum kau pergi ke pesta Marty," kata Mama.
"Potong sedikit saja ya, Ma."
"Tapi rambutmu sudah terlalu panjang," sahut Mama, sambil mulai menggunting rambutku. Cekrik … cekrik … cekrik…
Aku melihat ke cermin. Ah, Mama benar-benar memotong pendek rambutku. Wah, gawat! Sekarang pitak di kepalaku terlihat jelas. Tiga pitak yang selama ini tersembunyi di balik rambut panjangku! Oh, sekarang aku tak bisa bersenang-senang di pesta Marty, pikirku sedih.
Apa yang harus kulakukan? Akhirnya aku memakai topi koboi untuk menutupi pitak yang memalukan itu.
"Mengapa kau memakai topi koboi?" tanya Joe, ketika aku bermain di luar.
"Cuma kepingin saja," jawabku.
"Tapi hari ini sangat panas," protes Diane. "Nanti kepalamu keringatan!."
"Kepala keringatan malah sehat," sahutku tak mau kalah. "Keringat akan membuat rambut tumbuh lebih cepat."
Syukurlah, Diane dan Joe percaya pada omonganku.
"Kami akan pergi membeli hadiah untuk Marty," kata Diane. "Ikutan, yuk."
"Oke," kataku. Tapi mungkin aku tak akan datang ke pesta Marty, tambahku dalam hati. Sekarang aku punya tiga pitak di kepala, dan harus memakai topi koboi untuk menutupinya.
"Mengapa kau memakai topi koboi?" tanya si pelayan toko.
"Karena ia kepingin," jawab Joe.
" Karena ia suka kepalanya keringatan," tambah Diane.
"Kepala keringatan membuat rambut tumbuh lebih cepat," Joe dan Diane menjawab bersamaan.
Ah, benar-benar teman yang baik. Mereka tahu apa yang harus dikatakan.
Keesokan harinya, aku juga memakai topi koboi ke sekolah.
"Mengapa topimu tidak kau lepas?" tanya Pak Guru.
"Maaf, Pak. Saya harus tetap memakainya," jawabku dengan tampang sedih. Aku harus menutupi pitak di kepalaku, tambahku dalam hati.
Saat makan malam, aku tetap mengenakan topi koboi.
"Lepaskan topi itu saat duduk di meja makan," perintah Papa.
Aku melihat ke arah kepala Papa yang berpitak lebar, alias botak. Terpaksa aku melepas topi koboiku. Lalu aku masuk ke kamar tidur, dan mengunci pintu. Aku berkaca di cermin, untuk melihat apakah rambutku sudah tumbuh. Yah, ternyata belum. Padahal besok pagi pesta ulang tahun Marty. Terpaksa aku tidur dengan tetap memakai topi koboi. Agar kepalaku keringatan sepanjang malam.

Bangun pagi, aku langsung berkaca lagi di depan cermin. Yah, ternyata pitak yang memalukan itu masih juga kelihatan.
Joe dan Diane sudah menjemputku untuk pergi ke pesta Marty.
"Kau sudah siap, kan?" tanya Joe.
"Ya," sahutku agak malas. Tapi aku tak akan bisa bersenang-senang di pesta," tambahku dalam hati.
"Kau pergi dengan memakai topi koboi?" tanya Diane keheranan.
"Ya," aku menjawab tegas. Tak seorang pun pergi ke pesta ulang tahun dengan tiga pitak di kepala, kataku paada diri sendiri.
Ding … dong … ding… dong… Kami menekan bel pintu rumah Marty. Mama Marty menyambut kami dengan ramah.
"Semua anak sudah berkumpul di sini," mama Marty menjelaskan. "Sayangnya Marty ngambek. Ia tidak mau keluar dari kamarnya."
Aku naik ke lantai atas, dan mengintip ke dalam kamar tidur Marty. Marty sedang berkaca di depan cermin dan menangis.
"Mengapa kau tidak mau keluar?" tanyaku dari luar kamar.
"Tidak," suara Marty sedih. "Tampangku memalukan sekali."
Kulihat Marty mengenakan setelannya yang terbaik. Kupikir ia ganteng juga.
"Menurutku, kau tidak memalukan Marty," aku berusaha menghiburnya.
"Tahukah kau? Mama memotong rambutku terlalu pendek. Sehingga pitak di kepalaku terlihat jelas," Marty membuka pintu.
Benar! Kepala Marty pitak, sama seperti kepalaku. Wah, rupanya kami bernasib sama. Aku tak bisa menahan tawa. Kulepas topi koboiku, dan kuperlihatkan tiga pitak di kepalaku padanya.
"Selamat ulang tahun, Marty," kujabat tangan temanku sambil tersenyum.
Marty malah tertawa! Ah, kini kami tak perlu bersedih lagi.
Kami turun ke lantai bawah bersama-sama. Dengan pitak di kepala, tanpa topi koboi lagi!

Sumber Webarchive Pacific Net

Selasa, 05 Desember 2023

Coba Yuk - Panjat Dinding Naruto

Dimuat sebagai Rahasia Gambar bisa Memanjat Dinding di bobo.grid.id



Haps! Naruto latihan merayap di dinding yang licin. Ups, Naruto tidak bisa naik jika tanganmu tidak menarik benang. Olala... memangnya Naruto latihan di mana, sih? Hihihi... Naruto latihan di rumahmu. Tepatnya di dinding mainan buatanmu sendiri...


Kita Perlu:

•  Papan stirofoam 100 x 20 cm

•  Stiker atau gambar Naruto

•  Kertas Karton

•  Paper Clip

•  Push Pin

•  Benang kasur atau benang wol sepanjang 2 meter

•  Sedotan plastik


Ini Rahasia Membuatnya:

1. Tempelkan Stiker atau gambar Naruto di kertas karton. Potong sedotan plastik sepanjang 2 cm sebanyak 2 buah. Tempelkan di belakang potongan gambar Naruto.


2. Masukkan benang kasur/wol ke dalam lubang dua sedotan tersebut. Ikat kedua ujung benang dengan paper clip.

3. Tancapkan push pin di ujung papan stirofoam. Taruh benang pada push pin. Pegang masing-masing paper clip dengan tangan kanan dan kiri. Rentangkan benang, Tarik bergantian benang tersebut.

Hoorree... Naruto berhasil merayap! Karena efek gaya gesek sedotan pada dinding stirofoam. Selain itu, gaya katrol benang menyebabkan Naruto tertarik ke atas. (rna)

rna = Johanna Ernawati - IG: @nana_jo_dipi
Foto: Ricky Martin - IG: @ricky_jalanjalan
Model: Rio
Pengarah Gaya & Busana: Ria Himawan - IG: @riaramiro
Stylist: Anis & Yani - IG: @kiddycuts
Koleksi Sepatu & Bandana: MyHobbyTown - IG: @myhobbytown
Narasumber: Planet Sains - IG: @eksperimen_sains
Dari Majalah Kreatif edisi 04/2008


Jumat, 26 Mei 2023

Dear WITCH - Audisi Model


 Halo, W.I.T.C.H. perkenalkan, namaku Stefanie. Aku punya sedikit pertanyaan dan tolong dijawab, ya.

1. Kenapa W.I.T.C.H. tidak mengadakan pemilihan model W.I.T.C.H. antara umur 11-17 tahun?

2. Bagaimana kalau majalah W.I.T.C.H. tidak hanya berisi tentang itu-itu saja, tetapi juga tentang artis remaja atau pengalaman artis?

3. Sekian dulu, ya... Jangan lupa menjawab suratku ini... I LOVE W.I.T.C.H.


Stefanie (11th),

Daan Mogot, Jakarta


Halo, Stefani. Usulmu tentang pemilihan model bagus juga. Sayangnya, saat ini rubrik W.I.T.C.H. Trend sedang diistirahatkan. Jadi, untuk sementara, usulmu belum bisa direalisasikan. Sedangkan artikel tentang artis, akan dimuat jika memang diperlukan. Sabar, ya...


W.I.T.C.H. 31, sekitar September/Oktober 2004. Sumber foto:Tokopedia - Tarabirun

Jumat, 10 Februari 2023

Dongeng - Ramai-Ramai Menjual Rambut

Oleh Widya Suwarna (Bobo No.6/XXV)

Di suatu desa tinggallah seorang janda miskin dengan anak gadisnya yang bernama Delima. Delima mempunyai rambut panjang yang indah dan seekor kucing yang bernama Manis. Pekerjaan ibu dan anak itu sehari-hari adalah menerima upah mencuci.

Suatu hari ada pengumuman dari kepala desa. Sebulan lagi Pangeran Wirya akan berziarah ke makam seorang pahlawan dan melewati desa itu pada malam hari. Jadi setiap keluarga diharapkan memasang pelita di depan rumah. Dengan demikian Pangeran Wirya dan rombongan mendapat penerangan yang cukup ketika melintasi desa tersebut.


Wah, banyak warga yang bersungut-sungut.

"Huh, cuma lewat sebentar saja kita harus repot-repot beli pelita dan minyaknya!" kata beberapa orang.

"Desa kita ini desa miskin. Tidak pantas warga dibebani hal seperti itu!" kata yang lain.

Bagaimana dengan Delima dan ibunya?

"Kita tak punya uang banyak. Kita beli saja sebuah pelita dengan sumbu dan minyak!" kata ibu Delima.

"Tidak Ibu. Sebenarnya merupakan suatu kehormatan Pangeran berkenan melintasi desa kita. Aku ingin sekali supaya Pangeran dan rombongan mendapat penerangan yang cukup. Aku akan menjual rambutku dan membeli 10 buah pelita dengan sumbu dan minyaknya!" kata Delima. Kucing Delima, si Manis mengeong-ngeong seolah-olah menyetujui gagasan majikannya.

Ibu Delima memandang anak gadisnya dengan terkejut.

"Rambutmu demikian indah dan panjang. Masakan akan dikorbankan. Kan sayang! Pikirlah dulu baik-baik!" kata ibu Delima.

Namun Delima tetap ingin melaksanakan niatnya. Maka jadilah Delima menjual rambutnya. Uang penjual rambut dibelikan 10 buah pelita dengan sumbu dan minyaknya.


Demikianlah pada hari yang ditentukan lewatlah Pangeran Wirya dan rombongannya. Umumnya penduduk hanya memasang satu atau dua buah pelita di depan rumahnya. Namun, alangkah herannya Pangeran Wirya ketika melintasi gubuk Delima. Gubuk itu kecil dan sangat sederhana. Namun, 10 buah pelita yang bersinar terang terpasang rapi di depan gubuk itu.

"Rumah siapakah ini, Bapak? Mengapa penghuninya memasang 10 buah pelita?" tanya Pangeran Wirya pada Kepala Desa. Dalam hati ia heran, rumah-rumah yang lebih bagus hanya memasang satu atau dua buah pelita. Justru penghuni gubuk buruk ini memasang 10 buah pelita.

"Oh, ini rumah Delima dan ibunya. Mungkin ibu dan anak ini sangat gembira karena Pangeran berkenan lewat di desa ini!" jawab Kepala Desa.

"Kalau begitu, sepulang ziarah aku akan singgah sebentar ke sini!" Pangeran memutuskan.

Benar. Beberapa hari kemudian Pangeran Wirya singgah ke gubuk Delima dan ibunya. Di ruang tamu yang sederhana duduk Pangeran Wirya, Kepala Desa, ibu Delima, dan Delima yang memangku kucingnya, si Manis. Ibu Delima menceritakan bahwa Delima telah mengorbankan rombongan Pangeran. Pangeran sangat terkesan. Kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pulang. Ia juga memberikan sejumlah uang pada ibu Delima dan suatu waktu akan mengundang Delima dan ibunya ke istana.

Beberapa bulan kemudian tersiar berita bahwa Pangeran Wirya akan ziarah lagi. Kali ini Pangeran heran karena banyak rumah yang memasang 10 pelita.

"Apa yang terjadi? Mengapa sekarang banyak yang memasang 10 pelita di muka rumahnya?" tanya Pangeran pada Kepala Desa.

"Oh, mereka sudah mendengar kisah Delima. Jadi ada gadis-gadis yang menjual rambutnya dan berharap Pangeran mau singgah ke rumah mereka! Lagi pula tersiar desas-desus bahwa Pangeran akan mengambil istri dari desa ini!" jawab Kepala Desa.

"Kalau begitu, sepulang dari ziarah aku akan singgah ke rumah Bapak dan bertemu dengan semua gadis yang telah mengorbankan rambutnya untuk membeli pelita!" kata Pangeran Wirya.


Demikianlah, sepulang ziarah Pangeran singgah ke rumah Kepala Desa. Di sana ada 11 gadis termasuk Delima yang sudah berdandan secantik-cantiknya. Semuanya berambut pendek. Pangeran memperhatikan. Hanya Delima yang berdandan sederhana, karena ia memang miskin. Yang lain memakai kain kebaya yang baru dan mahal, bahkan banyak yang memakai perhiasan emas berlian. Dalam hati Pangeran merasa geli. Kalau orang tua gadis-gadis itu berada, untuk apa mereka menjual rambutnya demi membeli pelita dan minyak?

Lalu Pangeran berkata, "Saya berterima kasih pada kalian yang telah mengorbankan rambut untuk membeli pelita. Mengenai desas-desus sekarang saya bingung karena ternyata ada 11 orang gadis yang baik hati, sedangkan saya hanya ingin memiliki seorang istri!"

"Kalau begitu, silakan Pangeran pilih mana yang berkenan di hati!" kata Kepala Desa.

Pangeran Wirya menggeleng.
"Tidak, semuanya cantik dan baik. Tidak adil kalau aku memilih seorang. Lebih baik begini, aku mengajukan pertanyaan dan semua gadis menuliskan jawaban di kertas. Siapa yang menjawab betul, dialah yang menjadi istriku!" kata Pangeran.
"Benar, cara itu lebih baik!" kata Kepala Desa,

"Nah, tentu kalian semua telah mendengar kisah kunjunganku tempo hari. Yang ingin kutanyakan, waktu aku singgah ke rumah ibu Delima, ada berapa makhluk hidup yang berada di ruang tamu tersebut?" tanya Pangeran Wirya.
Semua gadis menuliskan jawabannya. Pertanyaan itu mudah, pikir mereka. Ketika diperiksa, ternyata ada satu jawaban yang benar, yang lain salah.
"Saya memilih Delima sebagai istri saya, karena ia satu-satunya orang yang menjawab ada lima makhluk hidup di ruangan itu. Yang lain menjawab 4 makhluk hidup!" kata Pangeran Wirya.
Sepuluh gadis lainnya saling memandang dengan heran. Lima makhluk hidup? Apa tidak salah? Kan dari cerita-cerita jelas disebutkan bahwa ketika bercakap-cakap yang hadir adalah Kepala Desa, Pangeran Wirya, ibu Delima, dan Delima. Jadi satunya lagi siapa?
Kalian bisa menolong gadis-gadis itu? Bukankah kucing juga termasuk makhluk hidup?

Dari webarchive pacific.net.id, arsipan 14 Februari 1998

Rabu, 14 Desember 2022

Cerpen - Kasus Nama

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 42/XXV)

Ina sedang menyiram bunga di pekarangan samping rumah. Matanya terus mengamati bunga-bunga yang bermekaran. Sampai ia terkejut ketika namanya dipanggil-panggil dari seberang pagar yang membatasi pekarangan rumah sebelah.

"Ina ... Ina ke sini!" suara itu terdengar lagi. Jelas itu suara anak lelaki. Tapi Ina tidak mengenali suara itu. Ia tahu ada tetangga yang baru pindah ke rumah itu dua hari lalu.
Ina naik ke atas batu yang menempel di bawah pagar. Kepalanya menyembul melihat ke pekarangan tetangganya. Seorang anak laki-laki sebayanya tengah asyik bercanda dengan seekor anak anjing.

"Ayo Ina, lompat!" anak laki-laki itu menyeru lagi.
Muka Ina langsung pucat. Ia baru sadar kalau nama yang disebut-sebut anak itu bukan ditujukan padanya melainkan kepada anak anjing berbulu putih hitam itu.

"Hey!" panggil Ina agak keras. Anak lelaki itu langsung menatap ke arah Ina. Ia sudah mengetahui keberadaan Ina sejak tadi. "Aku sarankan padamu, sebaiknya nama anjing itu kamu ganti."
Anak lelaki itu mengerutkan dahinya. "Mengapa harus kuganti? Nama itu kan kedengarannya lucu," sahutnya.
"Tapi kan kamu tidak tahu kalau nama itu sama dengan namaku. Bagaimana kalau sampai teman-temanku mengetahuinya?"
"Itu urusanmu."
Muka Ina berlipat kesal. Rupanya anak ini harus dibujuk, pikirnya. "Hey, memangnya kenapa sih kamu keberatan mengganti nama anjing itu? Kan lebih bagus kalau kamu ganti dengan Snowi, Tintin, atau Skipi," suara Ina agak merayu.

"Tidak bisa. Anjing ini kenang-kenangan dari sahabatku sebelum pindah ke sini. Ia yang memberi nama itu. Kalau ia sampai tahu aku mengganti nama yang ia berikan, nanti aku dianggap tidak bisa menghargai kenang-kenangan darinya," jelas anak laki-laki itu.
Mulut Ina terkatup rapat. Kasusnya jadi semakin buntu.

"Bobi ... Bobi! Sudah sore kamu belum mandi juga. Nanti Mama pulang baru tahu rasa!" suara teriakan terdengar bersamaan dengan keluarnya anak perempuan yang umurnya dua tahun di atas Ina.

Anak lelaki bernama Bobi itu bergegas meninggalkan pekarangan sambil berteriak, "Ina, ayo kita mandi dulu!"
Ina cuma bisa mendengus kesal. Kekesalannya terus berlanjut ketika ia di sekolah esok paginya. Tentu hal ini mengundang tanya teman-temannya. Selama ini Ina dikenal paling ceria.

"Kamu tidak dikasih uang jajan sama mamamu, ya?" tanya Idong di waktu istirahat. Tapi Ina cuma menggeleng.
"Terus kenapa?" tanya Wini.
"Aku mau cerita, tapi kalian harus janji tidak menertawakannya," Ina memberikan syarat.
Idong, Wini, dan Herman mengangguk seketika karena tidak sabar. Setelah menarik napas sebentar, Ina menceritakan semua yang dialaminya kemarin sore. Dan secara bersamaan semua terbahak-bahak setelah Ina menghabiskan ceritanya.

"Kalian kok malah ketawa, bukannya membantu aku menyelesaikan masalah ini," protes Ina.

Serentak Idong dan Wini terdiam lalu mata mereka menatap ke arah Herman. Ia memang dikenal banyak akal. Dari masalah pertengkaran sampai pencurian di kelas pernah diselesaikannya.

"Aku ada akal untuk menyelesaikan kasus ini. Ina, kamu tahu nama tetangga barumu itu?"
"Bobi. Aku mendengar kakaknya menyebut namanya demikian kemarin."
"Bagus. Lantas di antara kalian ada yang punya hewan peliharaan di rumah?"
"Aku punya kucing," jawab Idong.
"Aku punya kelinci," timpal Wini.
"Ah, itu kurang seru. Begini saja. Pamanku punya seekor monyet. Kamu tidak takut dengan monyet kan, Ina?"
"Monyet? Untuk apa?"
"Kalau tidak takut, kita lihat saja hasilnya nanti sore."

Sekitar pukul empat sore Bobi tengah duduk di pekarangan rumahnya sambil memperhatikan anjing kecil di dekatnya. Ia merasa bosan tinggal di rumah. Kalau saja ia pindah ke sekolah seperti anak-anak di kompleks ini, tentu ia mudah mendapatkan teman.
"Bobi! Ayo makan pisangnya!"

Suara itu terdengar jelas di telinga Bobi. Datangnya dari seberang pagar rumah. Ia beranjak penasaran untuk melihat ke seberang pagar. Dilihatnya Ina tengah memberi sebuah pisang ke arah monyet kecil. Mata Bobi langsung membesar seketika.
"Hey, rupanya kamu dendam sama aku. Kamu pasti sengaja memberi nama monyet itu seperti namaku."
Ina memandang ke arah Bobi. "Bagaimana aku tahu kalau nama monyet ini sama dengan namamu? Sebagai orang baru di sini kamu kan tidak pernah memperkenalkan diri."
Bobi merasa diserang.
"Lagian kalau monyet ini tidak dipanggil Bobi, tidak pernah mau makan. Kasihan kan kalau dia sampai kurus kering karena namanya kuganti."

Bobi menyerah kalah. "Baiklah, tolong ganti nama monyet itu. Kalau kamu mengusahakannya sedikit-dikit, pasti monyet itu mau mengerti. Dan aku akan janji mengganti nama anjingku."
"Lho, nanti sahabat lamamu itu marah."
"Ah, sebenarnya aku kemarin mengada-ada saja. Anjing itu pemberian pamanku. Nama sebenarnya Skuli. Aku cuma iseng saja mencari cara agar bisa berkenalan dengan kamu. Kebetulan aku sering mendengar namamu disebut-sebut. Tapi untuk berkenalan langsung denganmu aku tidak berani."

Ina manggut-manggut. Ia dapat memahami apa yang diucapkan Bobi. "Kalau begitu melompatlah kemari. Kebetulan teman-temanku juga ada di sini. Nah, itu Idong, Wini, dan Herman," ucap Ina ketika teman-temannya muncul dari persembunyian di balik tembok.

Bobi terkejut tidak menduga ada orang lain di antara mereka berdua. Dalam beberapa menit saja Bobi sudah bermain akrab dengan mereka. Pertengkarannya dengan Ina tidak pernah diingatnya lagi.

Kamis, 01 Desember 2022

Cerpen - Paparazzi Kampung

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 41/XXV)

Mita mendapat kiriman dari Paman Eko di Jepang. Sebuah kamera saku otomatis lengkap dengan telenya. Warnanya seperti pelangi dan bisa dilipat. Bukan alang kepalang girangnya Mita mendapat kamera itu.
"Akhirnya cita-cita Mita menjadi paparazzi akan segera terwujud," gumam Mita sambil berkeliling ruang tamu.

"Kalau anak perempuan namanya bukan paparazzi, Kak Mita, tapi mamarazzi," sela Ugi yang mendapat kiriman sepatu kelinci.
"Hush, ya tidak bisa. Paparazzi ya paparazzi. Tidak ada mamarazzi, anakrazzi, kakekrazzi, nenekrazzi ..." timpal Mita.
"Memangnya papalaci itu apaan?" tanya si bungsu Tio.
"Baca makanya majalah Bobo. Mama beli majalah itu buat dibaca kita semua. Jangan cuma ngambil bonusnya. Di majalah Bobo kan pernah diceritakan tentang paparazzi. Bukan papalaci."
"Iya, papalaci. Tio kan masih cadel."

Mita makin merasa beruntung ketika Mama memberinya satu roll film untuk dimasukkan ke dalam kamera. "Ingat, kameranya harus terbuka lensanya," pesan Mama.
"Ini kan kamera otomatis. Kalau lensanya tertutup tidak akan bisa dipencet tombolnya," jelas Mita. Ia sudah tidak sabar lagi ke luar rumah. Sambil menenteng kamera barunya, Mita berkeliling di Kampung Cemara.
Wini yang sedang keselek makan bakso langsung difotonya. Klik! Dodi yang sedang kesakitan kena lempar bola kasti. Klik! Toto yang sedang diseret ibunya untuk mandi sore. Klik! Andi yang terbirit-birit dikejar anak anjing. Klik! Lupita dengan sepeda roda tiga adiknya. Klik! Klak! Kluk! Klok! Tidak terasa Mita seharian telah menghabiskan satu gulungan film.
Mita terpaksa membuka celengannya untuk mencuci dan mencetak film. Tak apa-apa, nanti aku kan mendapat gantinya, pikir Mita yang sudah punya rencana. Selain itu ia memang sudah tidak sabar melihat hasil foto buruannya.

Di rumah Ugi dan Tio tak hentinya tertawa melihat foto-foto yang dipamerkan Mita. Semuanya begitu lucu.

"Lantas mau dikemanakan foto-foto ini?" tanya Ugi.
"Tunggu saja besok. Aku akan menjadi kaya karena foto-foto itu," pikiran Mita melayang jauh.
Besok siangnya selepas sekolah Mita langsung mendatangi teman-teman yang difotonya satu persatu. Hampir semuanya langsung pucat dan malu melihat hasil foto Mita.
"Jangan takut aku tidak akan menunjukkan foto ini pada orang lain. Pokoknya aku tunggu sore nanti di rumah untuk menebus foto ini," kata Mita kemudian.
"Wah, ini namanya pemerasan," kata Dodi.
"Ih, memangnya baju diperas segala," timpal Mita tidak mempedulikan.
Karuan saja teman-teman Mita jadi saling mengunjungi. Mereka kemudian berkumpul untuk memecahkan persoalan mereka. Yang jelas mereka tidak ingin Mita mendapat untung sementara mereka mengalami kerugian yang memalukan.
"Kita biarkan saja foto-foto itu. Jangan ada yang menebusnya. Nanti dia akan mengulanginya lagi," usul Toto.
"Tapi bagaimana kalau fotoku tersebar kepada anak-anak yang lain?" keluh Wini yang menyadari betapa jelek wajahnya di foto itu.
"Ya, kita ingatkan teman-teman yang lain agar tidak melihat foto-foto kita. Diberitahu saja bahwa mereka juga nanti akan mendapat giliran," sahut Andi.

Semua akhirnya bersepakat untuk tidak menebus foto mereka ke rumah Mita. Sementara Mita terbengong-bengong di rumah menunggu kedatangan teman-temannya. Rupanya cita-cita Mita jadi paparazzi tidak terkabulkan.
Kling klong. Bel rumah berbunyi. Mita dengan penuh harap memburu pintu depan. Ia mengintip dari jendela. Mukanya mendadak pucat ketika mengetahui yang datang ternyata dua orang lelaki berseragam polisi. Mita membatalkan niatnya membuka pintu.
"Ma, ada tamu di luar," teriak Mita di depan kamar Mama. Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar. Mengapa ada polisi datang ke sini? Mita membatin. Jangan-jangan teman-temannya melaporkan kegiatannya ke polisi? Ah, masak sih sampai sejauh itu.

"Mita ... Mita," seru Mama terdengar dari luar kamar.
Mita bukan keluar kamar, malah masuk ke kolong tempat tidur. Tubuhnya seperti kian menciut ketika Mama masuk ke dalam kamar.
"Mita di mana kamu? Itu ada Pak Polisi mencari kamu. Aduh, sedang apa kamu di kolong ranjang, Mita? Nanti ada kecoak baru tahu rasa!" ujar Mama yang menemukan Mita saat berjongkok.
Mendengar Mama menyebut kecoak, Mita langsung ke luar dari kolong ranjang.
"Mau apa Pak Polisi mencari Mita, Ma?" tanya Mita kemudian.
"Kamu pasti belum mendengar berita pencurian di rumah Pak Broto kemarin. Nah, Pak Polisi itu sedang menyelidiki pelakunya. Tadi Pak Polisi sudah wawancara beberapa orang. Ternyata Andi memang melihat ada mobil berhenti di depan rumah Pak Broto. Tapi karena ia sedang dikejar anjing, Andi tidak begitu mengingat persis mobilnya. Lantas Andi menyebutkan bahwa kamu juga ada di sana saat itu. Malah sempat memotret di sana," tutur Mama.

"Mobil di depan rumah Pak Broto? Tunggu sebentar. Kalau tidak salah mobil itu terfoto kemarin." Mita segera memeriksa hasil fotonya kemarin di atas meja. Diambilnya foto saat Andi dikejar anjing. Di bagian pinggir foto itu jelas terlihat sebuah mobil berwarna coklat dari belakang terparkir di depan rumah Pak Broto. Nomor plat mobilnya meski kecil masih dapat dilihat. "Ini fotonya, Ma. Biar Mita yang berikan kepada Pak Polisi."

Mita mengikuti Mama ke ruang tamu. Kali ini ia tidak cemas lagi. Malah Mita memberanikan diri bercerita panjang lebar mengenai foto hasil bidikannya itu.
"Boleh kami minta foto ini untuk bahan penyelidikan?" pinta Pak Polisi kemudian.
"Wah, sebenarnya foto ini mau saya jual, Pak," kata Mita.
"Mita, masak untuk kebaikan mau kamu jual juga. Biar nanti Mama yang ganti," sela Mama.
Mita tersenyum. "Tidak usah, Ma. Pak Broto kan orangnya sering menolong. Mita dengan senang hati juga mau menolong," timpal Mita kemudian.

Kedua Pak Polisi itu segera pamit. Mita kembali ke kamarnya dengan hati riang. Biarlah teman-temannya tidak perlu menebus foto-foto mereka, Mita berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namanya juga paparazzi kampung. Yang jelas ia merasa bangga bisa membantu Pak Polisi menangkap pencuri di rumah Pak Broto.

Dari webarchive pacific.net.id, arsipan 14 Februari 1998

Selasa, 29 November 2022

Kotak Pos 313 - Nama-Nama Tokoh

 Dear, Donal Bebek,

Sangat menyenangkan saya bisa ikut berbagi cerita di ADB sekalipun saya telah berusia 41 tahun (di 2012).

Ada satu hal yang dari dulu menarik perhatian saya di ADB yaitu nama-nama tokoh dalam cerita ADB dengan meniru nama tokoh, aktor, ataupun profesi yang dilainkan sedikit (menurut saya lho, karena namanya sangat mirip). Saya memberikan pujian untuk tim redaksi ADB, terutama tim kreatifnya. Mereka sangat kreatif dalam memberikan nama pada tokoh-tokoh cerita Donal Bebek, contohnya sebagai berikut:

  1. Indiana Joni (gubahan dari film Indiana Jones), ADB 1233, hal. 4
  2. Cak Nuris (gubahan dari nama aktor Chuck Norris), ADB 1532, hal. 23
  3. Kano Nano (gubahan dari nama aktor Rano Karno), ADB 880, hal. 19
  4. Zan Tarazan (gubahan dari nama aktor Tarzan "Srimulat"), ADB 880, hal. 19
  5. Vinsen van Dong (gubahan dari nama pelukis Vincent van Gogh), ADB 786, hal. 3
  6. Dudi Kabuseh (gubahan dari nama mentalist Deddy Corbuzier), ADB 1541, hal. 3
  7. James Bondol (gubahan dari film James Bond), ADB 1553, hal. 41
  8. Philo T. Elis (profesi kolektor perangko), ADB 1540, hal. 11
  9. Dr. Jiwani (profesi psikiater), ADB 1180, hal. 4
  10. Dr. Insomnia (profesi dokter), ADB 1550, hal. 14
  11. Penerbit Gramekita (gubahan dari Penerbit Gramedia), ADB 880, hal. 6
Masih sangat banyak lagi nama-nama tokoh cerita yang sangat lucu dan SANGAT KREATIF ... dan yang saya ambilkan contoh di atas hanya sebagian kecil dari nama-nama yang saya sadur dari koleksi saya belakangan ini. Saya sendiri mulai langganan Album Donal Bebek sekitar usia 11 tahun, bahkan sejak tahun 2005, saya berlangganan dengan membayar setahun dimuka. Saya ingat sekali dulu saya sudah punya kumpulan nama tokoh tersebut dalam sebuah buku catatan yang saya sangat sesalkan hilang karena pindah rumah beberapa kali. Belakangan ini, saya mulai kumpulkan lagi karena sangat lucu, kreatif, dan atraktif.

Sekarang, koleksi-koleksi ADB tersebut saya bawa untuk saya baca di kantor terutama setiap saat makan siang, karena biasanya saya makan di atas meja kerja saya (sambil cekikikan sendiri). Sungguh sangat luar biasa cerita-cerita di ADB, yang sudah sangat menghibur saya di sela-sela kesibukan saya sampai menemani saat menjelang tidur.

Anak saya yang sulung pun semenjak setahun terakhir selalu baca ADB, baik yang baru datang, maupun koleksi ADB saya yang sudah lama.
Aplaus untuk Album Donal Bebek...

Salam,
Ign. Frans Sujono

Wak! Redaksi Album Donal Bebek jadi tersandung, nih... eh, tersanjung maksudnya. Senangnya Frans juga menularkan rasa cinta terhadap ADB pada anaknya Frans. Semoga ADB tetap menjadi bacaan yang dapat menghibur Frans dan teman-teman lainnya. He he he...

Dari Album Donal Bebek 1606 (Edisi Khusus Olimpiade), 30 Juli 2012