Oleh Widya Suwarna (Bobo No.6/XXV)
Di suatu desa tinggallah seorang janda miskin dengan anak gadisnya yang bernama Delima. Delima mempunyai rambut panjang yang indah dan seekor kucing yang bernama Manis. Pekerjaan ibu dan anak itu sehari-hari adalah menerima upah mencuci.
Suatu hari ada pengumuman dari kepala desa. Sebulan lagi Pangeran Wirya akan berziarah ke makam seorang pahlawan dan melewati desa itu pada malam hari. Jadi setiap keluarga diharapkan memasang pelita di depan rumah. Dengan demikian Pangeran Wirya dan rombongan mendapat penerangan yang cukup ketika melintasi desa tersebut.
Wah, banyak warga yang bersungut-sungut.
"Huh, cuma lewat sebentar saja kita harus repot-repot beli pelita dan minyaknya!" kata beberapa orang.
"Desa kita ini desa miskin. Tidak pantas warga dibebani hal seperti itu!" kata yang lain.
Bagaimana dengan Delima dan ibunya?
"Kita tak punya uang banyak. Kita beli saja sebuah pelita dengan sumbu dan minyak!" kata ibu Delima.
"Tidak Ibu. Sebenarnya merupakan suatu kehormatan Pangeran berkenan melintasi desa kita. Aku ingin sekali supaya Pangeran dan rombongan mendapat penerangan yang cukup. Aku akan menjual rambutku dan membeli 10 buah pelita dengan sumbu dan minyaknya!" kata Delima. Kucing Delima, si Manis mengeong-ngeong seolah-olah menyetujui gagasan majikannya.
Ibu Delima memandang anak gadisnya dengan terkejut.
"Rambutmu demikian indah dan panjang. Masakan akan dikorbankan. Kan sayang! Pikirlah dulu baik-baik!" kata ibu Delima.
Namun Delima tetap ingin melaksanakan niatnya. Maka jadilah Delima menjual rambutnya. Uang penjual rambut dibelikan 10 buah pelita dengan sumbu dan minyaknya.
Demikianlah pada hari yang ditentukan lewatlah Pangeran Wirya dan rombongannya. Umumnya penduduk hanya memasang satu atau dua buah pelita di depan rumahnya. Namun, alangkah herannya Pangeran Wirya ketika melintasi gubuk Delima. Gubuk itu kecil dan sangat sederhana. Namun, 10 buah pelita yang bersinar terang terpasang rapi di depan gubuk itu.
"Rumah siapakah ini, Bapak? Mengapa penghuninya memasang 10 buah pelita?" tanya Pangeran Wirya pada Kepala Desa. Dalam hati ia heran, rumah-rumah yang lebih bagus hanya memasang satu atau dua buah pelita. Justru penghuni gubuk buruk ini memasang 10 buah pelita.
"Oh, ini rumah Delima dan ibunya. Mungkin ibu dan anak ini sangat gembira karena Pangeran berkenan lewat di desa ini!" jawab Kepala Desa.
"Kalau begitu, sepulang ziarah aku akan singgah sebentar ke sini!" Pangeran memutuskan.
Benar. Beberapa hari kemudian Pangeran Wirya singgah ke gubuk Delima dan ibunya. Di ruang tamu yang sederhana duduk Pangeran Wirya, Kepala Desa, ibu Delima, dan Delima yang memangku kucingnya, si Manis. Ibu Delima menceritakan bahwa Delima telah mengorbankan rombongan Pangeran. Pangeran sangat terkesan. Kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pulang. Ia juga memberikan sejumlah uang pada ibu Delima dan suatu waktu akan mengundang Delima dan ibunya ke istana.
Beberapa bulan kemudian tersiar berita bahwa Pangeran Wirya akan ziarah lagi. Kali ini Pangeran heran karena banyak rumah yang memasang 10 pelita.
"Apa yang terjadi? Mengapa sekarang banyak yang memasang 10 pelita di muka rumahnya?" tanya Pangeran pada Kepala Desa.
"Oh, mereka sudah mendengar kisah Delima. Jadi ada gadis-gadis yang menjual rambutnya dan berharap Pangeran mau singgah ke rumah mereka! Lagi pula tersiar desas-desus bahwa Pangeran akan mengambil istri dari desa ini!" jawab Kepala Desa.
"Kalau begitu, sepulang dari ziarah aku akan singgah ke rumah Bapak dan bertemu dengan semua gadis yang telah mengorbankan rambutnya untuk membeli pelita!" kata Pangeran Wirya.
Demikianlah, sepulang ziarah Pangeran singgah ke rumah Kepala Desa. Di sana ada 11 gadis termasuk Delima yang sudah berdandan secantik-cantiknya. Semuanya berambut pendek. Pangeran memperhatikan. Hanya Delima yang berdandan sederhana, karena ia memang miskin. Yang lain memakai kain kebaya yang baru dan mahal, bahkan banyak yang memakai perhiasan emas berlian. Dalam hati Pangeran merasa geli. Kalau orang tua gadis-gadis itu berada, untuk apa mereka menjual rambutnya demi membeli pelita dan minyak?
Lalu Pangeran berkata, "Saya berterima kasih pada kalian yang telah mengorbankan rambut untuk membeli pelita. Mengenai desas-desus sekarang saya bingung karena ternyata ada 11 orang gadis yang baik hati, sedangkan saya hanya ingin memiliki seorang istri!"
"Kalau begitu, silakan Pangeran pilih mana yang berkenan di hati!" kata Kepala Desa.
Pangeran Wirya menggeleng.
