Halaman

Rabu, 14 Desember 2022

Cerpen - Kasus Nama

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 42/XXV)

Ina sedang menyiram bunga di pekarangan samping rumah. Matanya terus mengamati bunga-bunga yang bermekaran. Sampai ia terkejut ketika namanya dipanggil-panggil dari seberang pagar yang membatasi pekarangan rumah sebelah.

"Ina ... Ina ke sini!" suara itu terdengar lagi. Jelas itu suara anak lelaki. Tapi Ina tidak mengenali suara itu. Ia tahu ada tetangga yang baru pindah ke rumah itu dua hari lalu.
Ina naik ke atas batu yang menempel di bawah pagar. Kepalanya menyembul melihat ke pekarangan tetangganya. Seorang anak laki-laki sebayanya tengah asyik bercanda dengan seekor anak anjing.

"Ayo Ina, lompat!" anak laki-laki itu menyeru lagi.
Muka Ina langsung pucat. Ia baru sadar kalau nama yang disebut-sebut anak itu bukan ditujukan padanya melainkan kepada anak anjing berbulu putih hitam itu.

"Hey!" panggil Ina agak keras. Anak lelaki itu langsung menatap ke arah Ina. Ia sudah mengetahui keberadaan Ina sejak tadi. "Aku sarankan padamu, sebaiknya nama anjing itu kamu ganti."
Anak lelaki itu mengerutkan dahinya. "Mengapa harus kuganti? Nama itu kan kedengarannya lucu," sahutnya.
"Tapi kan kamu tidak tahu kalau nama itu sama dengan namaku. Bagaimana kalau sampai teman-temanku mengetahuinya?"
"Itu urusanmu."
Muka Ina berlipat kesal. Rupanya anak ini harus dibujuk, pikirnya. "Hey, memangnya kenapa sih kamu keberatan mengganti nama anjing itu? Kan lebih bagus kalau kamu ganti dengan Snowi, Tintin, atau Skipi," suara Ina agak merayu.

"Tidak bisa. Anjing ini kenang-kenangan dari sahabatku sebelum pindah ke sini. Ia yang memberi nama itu. Kalau ia sampai tahu aku mengganti nama yang ia berikan, nanti aku dianggap tidak bisa menghargai kenang-kenangan darinya," jelas anak laki-laki itu.
Mulut Ina terkatup rapat. Kasusnya jadi semakin buntu.

"Bobi ... Bobi! Sudah sore kamu belum mandi juga. Nanti Mama pulang baru tahu rasa!" suara teriakan terdengar bersamaan dengan keluarnya anak perempuan yang umurnya dua tahun di atas Ina.

Anak lelaki bernama Bobi itu bergegas meninggalkan pekarangan sambil berteriak, "Ina, ayo kita mandi dulu!"
Ina cuma bisa mendengus kesal. Kekesalannya terus berlanjut ketika ia di sekolah esok paginya. Tentu hal ini mengundang tanya teman-temannya. Selama ini Ina dikenal paling ceria.

"Kamu tidak dikasih uang jajan sama mamamu, ya?" tanya Idong di waktu istirahat. Tapi Ina cuma menggeleng.
"Terus kenapa?" tanya Wini.
"Aku mau cerita, tapi kalian harus janji tidak menertawakannya," Ina memberikan syarat.
Idong, Wini, dan Herman mengangguk seketika karena tidak sabar. Setelah menarik napas sebentar, Ina menceritakan semua yang dialaminya kemarin sore. Dan secara bersamaan semua terbahak-bahak setelah Ina menghabiskan ceritanya.

"Kalian kok malah ketawa, bukannya membantu aku menyelesaikan masalah ini," protes Ina.

Serentak Idong dan Wini terdiam lalu mata mereka menatap ke arah Herman. Ia memang dikenal banyak akal. Dari masalah pertengkaran sampai pencurian di kelas pernah diselesaikannya.

"Aku ada akal untuk menyelesaikan kasus ini. Ina, kamu tahu nama tetangga barumu itu?"
"Bobi. Aku mendengar kakaknya menyebut namanya demikian kemarin."
"Bagus. Lantas di antara kalian ada yang punya hewan peliharaan di rumah?"
"Aku punya kucing," jawab Idong.
"Aku punya kelinci," timpal Wini.
"Ah, itu kurang seru. Begini saja. Pamanku punya seekor monyet. Kamu tidak takut dengan monyet kan, Ina?"
"Monyet? Untuk apa?"
"Kalau tidak takut, kita lihat saja hasilnya nanti sore."

Sekitar pukul empat sore Bobi tengah duduk di pekarangan rumahnya sambil memperhatikan anjing kecil di dekatnya. Ia merasa bosan tinggal di rumah. Kalau saja ia pindah ke sekolah seperti anak-anak di kompleks ini, tentu ia mudah mendapatkan teman.
"Bobi! Ayo makan pisangnya!"

Suara itu terdengar jelas di telinga Bobi. Datangnya dari seberang pagar rumah. Ia beranjak penasaran untuk melihat ke seberang pagar. Dilihatnya Ina tengah memberi sebuah pisang ke arah monyet kecil. Mata Bobi langsung membesar seketika.
"Hey, rupanya kamu dendam sama aku. Kamu pasti sengaja memberi nama monyet itu seperti namaku."
Ina memandang ke arah Bobi. "Bagaimana aku tahu kalau nama monyet ini sama dengan namamu? Sebagai orang baru di sini kamu kan tidak pernah memperkenalkan diri."
Bobi merasa diserang.
"Lagian kalau monyet ini tidak dipanggil Bobi, tidak pernah mau makan. Kasihan kan kalau dia sampai kurus kering karena namanya kuganti."

Bobi menyerah kalah. "Baiklah, tolong ganti nama monyet itu. Kalau kamu mengusahakannya sedikit-dikit, pasti monyet itu mau mengerti. Dan aku akan janji mengganti nama anjingku."
"Lho, nanti sahabat lamamu itu marah."
"Ah, sebenarnya aku kemarin mengada-ada saja. Anjing itu pemberian pamanku. Nama sebenarnya Skuli. Aku cuma iseng saja mencari cara agar bisa berkenalan dengan kamu. Kebetulan aku sering mendengar namamu disebut-sebut. Tapi untuk berkenalan langsung denganmu aku tidak berani."

Ina manggut-manggut. Ia dapat memahami apa yang diucapkan Bobi. "Kalau begitu melompatlah kemari. Kebetulan teman-temanku juga ada di sini. Nah, itu Idong, Wini, dan Herman," ucap Ina ketika teman-temannya muncul dari persembunyian di balik tembok.

Bobi terkejut tidak menduga ada orang lain di antara mereka berdua. Dalam beberapa menit saja Bobi sudah bermain akrab dengan mereka. Pertengkarannya dengan Ina tidak pernah diingatnya lagi.

Kamis, 01 Desember 2022

Cerpen - Paparazzi Kampung

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 41/XXV)

Mita mendapat kiriman dari Paman Eko di Jepang. Sebuah kamera saku otomatis lengkap dengan telenya. Warnanya seperti pelangi dan bisa dilipat. Bukan alang kepalang girangnya Mita mendapat kamera itu.
"Akhirnya cita-cita Mita menjadi paparazzi akan segera terwujud," gumam Mita sambil berkeliling ruang tamu.

"Kalau anak perempuan namanya bukan paparazzi, Kak Mita, tapi mamarazzi," sela Ugi yang mendapat kiriman sepatu kelinci.
"Hush, ya tidak bisa. Paparazzi ya paparazzi. Tidak ada mamarazzi, anakrazzi, kakekrazzi, nenekrazzi ..." timpal Mita.
"Memangnya papalaci itu apaan?" tanya si bungsu Tio.
"Baca makanya majalah Bobo. Mama beli majalah itu buat dibaca kita semua. Jangan cuma ngambil bonusnya. Di majalah Bobo kan pernah diceritakan tentang paparazzi. Bukan papalaci."
"Iya, papalaci. Tio kan masih cadel."

Mita makin merasa beruntung ketika Mama memberinya satu roll film untuk dimasukkan ke dalam kamera. "Ingat, kameranya harus terbuka lensanya," pesan Mama.
"Ini kan kamera otomatis. Kalau lensanya tertutup tidak akan bisa dipencet tombolnya," jelas Mita. Ia sudah tidak sabar lagi ke luar rumah. Sambil menenteng kamera barunya, Mita berkeliling di Kampung Cemara.
Wini yang sedang keselek makan bakso langsung difotonya. Klik! Dodi yang sedang kesakitan kena lempar bola kasti. Klik! Toto yang sedang diseret ibunya untuk mandi sore. Klik! Andi yang terbirit-birit dikejar anak anjing. Klik! Lupita dengan sepeda roda tiga adiknya. Klik! Klak! Kluk! Klok! Tidak terasa Mita seharian telah menghabiskan satu gulungan film.
Mita terpaksa membuka celengannya untuk mencuci dan mencetak film. Tak apa-apa, nanti aku kan mendapat gantinya, pikir Mita yang sudah punya rencana. Selain itu ia memang sudah tidak sabar melihat hasil foto buruannya.

Di rumah Ugi dan Tio tak hentinya tertawa melihat foto-foto yang dipamerkan Mita. Semuanya begitu lucu.

"Lantas mau dikemanakan foto-foto ini?" tanya Ugi.
"Tunggu saja besok. Aku akan menjadi kaya karena foto-foto itu," pikiran Mita melayang jauh.
Besok siangnya selepas sekolah Mita langsung mendatangi teman-teman yang difotonya satu persatu. Hampir semuanya langsung pucat dan malu melihat hasil foto Mita.
"Jangan takut aku tidak akan menunjukkan foto ini pada orang lain. Pokoknya aku tunggu sore nanti di rumah untuk menebus foto ini," kata Mita kemudian.
"Wah, ini namanya pemerasan," kata Dodi.
"Ih, memangnya baju diperas segala," timpal Mita tidak mempedulikan.
Karuan saja teman-teman Mita jadi saling mengunjungi. Mereka kemudian berkumpul untuk memecahkan persoalan mereka. Yang jelas mereka tidak ingin Mita mendapat untung sementara mereka mengalami kerugian yang memalukan.
"Kita biarkan saja foto-foto itu. Jangan ada yang menebusnya. Nanti dia akan mengulanginya lagi," usul Toto.
"Tapi bagaimana kalau fotoku tersebar kepada anak-anak yang lain?" keluh Wini yang menyadari betapa jelek wajahnya di foto itu.
"Ya, kita ingatkan teman-teman yang lain agar tidak melihat foto-foto kita. Diberitahu saja bahwa mereka juga nanti akan mendapat giliran," sahut Andi.

Semua akhirnya bersepakat untuk tidak menebus foto mereka ke rumah Mita. Sementara Mita terbengong-bengong di rumah menunggu kedatangan teman-temannya. Rupanya cita-cita Mita jadi paparazzi tidak terkabulkan.
Kling klong. Bel rumah berbunyi. Mita dengan penuh harap memburu pintu depan. Ia mengintip dari jendela. Mukanya mendadak pucat ketika mengetahui yang datang ternyata dua orang lelaki berseragam polisi. Mita membatalkan niatnya membuka pintu.
"Ma, ada tamu di luar," teriak Mita di depan kamar Mama. Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar. Mengapa ada polisi datang ke sini? Mita membatin. Jangan-jangan teman-temannya melaporkan kegiatannya ke polisi? Ah, masak sih sampai sejauh itu.

"Mita ... Mita," seru Mama terdengar dari luar kamar.
Mita bukan keluar kamar, malah masuk ke kolong tempat tidur. Tubuhnya seperti kian menciut ketika Mama masuk ke dalam kamar.
"Mita di mana kamu? Itu ada Pak Polisi mencari kamu. Aduh, sedang apa kamu di kolong ranjang, Mita? Nanti ada kecoak baru tahu rasa!" ujar Mama yang menemukan Mita saat berjongkok.
Mendengar Mama menyebut kecoak, Mita langsung ke luar dari kolong ranjang.
"Mau apa Pak Polisi mencari Mita, Ma?" tanya Mita kemudian.
"Kamu pasti belum mendengar berita pencurian di rumah Pak Broto kemarin. Nah, Pak Polisi itu sedang menyelidiki pelakunya. Tadi Pak Polisi sudah wawancara beberapa orang. Ternyata Andi memang melihat ada mobil berhenti di depan rumah Pak Broto. Tapi karena ia sedang dikejar anjing, Andi tidak begitu mengingat persis mobilnya. Lantas Andi menyebutkan bahwa kamu juga ada di sana saat itu. Malah sempat memotret di sana," tutur Mama.

"Mobil di depan rumah Pak Broto? Tunggu sebentar. Kalau tidak salah mobil itu terfoto kemarin." Mita segera memeriksa hasil fotonya kemarin di atas meja. Diambilnya foto saat Andi dikejar anjing. Di bagian pinggir foto itu jelas terlihat sebuah mobil berwarna coklat dari belakang terparkir di depan rumah Pak Broto. Nomor plat mobilnya meski kecil masih dapat dilihat. "Ini fotonya, Ma. Biar Mita yang berikan kepada Pak Polisi."

Mita mengikuti Mama ke ruang tamu. Kali ini ia tidak cemas lagi. Malah Mita memberanikan diri bercerita panjang lebar mengenai foto hasil bidikannya itu.
"Boleh kami minta foto ini untuk bahan penyelidikan?" pinta Pak Polisi kemudian.
"Wah, sebenarnya foto ini mau saya jual, Pak," kata Mita.
"Mita, masak untuk kebaikan mau kamu jual juga. Biar nanti Mama yang ganti," sela Mama.
Mita tersenyum. "Tidak usah, Ma. Pak Broto kan orangnya sering menolong. Mita dengan senang hati juga mau menolong," timpal Mita kemudian.

Kedua Pak Polisi itu segera pamit. Mita kembali ke kamarnya dengan hati riang. Biarlah teman-temannya tidak perlu menebus foto-foto mereka, Mita berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namanya juga paparazzi kampung. Yang jelas ia merasa bangga bisa membantu Pak Polisi menangkap pencuri di rumah Pak Broto.

Dari webarchive pacific.net.id, arsipan 14 Februari 1998