Halaman

Kamis, 01 Desember 2022

Cerpen - Paparazzi Kampung

Oleh Benny Rhamdani. (Bobo No. 41/XXV)

Mita mendapat kiriman dari Paman Eko di Jepang. Sebuah kamera saku otomatis lengkap dengan telenya. Warnanya seperti pelangi dan bisa dilipat. Bukan alang kepalang girangnya Mita mendapat kamera itu.
"Akhirnya cita-cita Mita menjadi paparazzi akan segera terwujud," gumam Mita sambil berkeliling ruang tamu.

"Kalau anak perempuan namanya bukan paparazzi, Kak Mita, tapi mamarazzi," sela Ugi yang mendapat kiriman sepatu kelinci.
"Hush, ya tidak bisa. Paparazzi ya paparazzi. Tidak ada mamarazzi, anakrazzi, kakekrazzi, nenekrazzi ..." timpal Mita.
"Memangnya papalaci itu apaan?" tanya si bungsu Tio.
"Baca makanya majalah Bobo. Mama beli majalah itu buat dibaca kita semua. Jangan cuma ngambil bonusnya. Di majalah Bobo kan pernah diceritakan tentang paparazzi. Bukan papalaci."
"Iya, papalaci. Tio kan masih cadel."

Mita makin merasa beruntung ketika Mama memberinya satu roll film untuk dimasukkan ke dalam kamera. "Ingat, kameranya harus terbuka lensanya," pesan Mama.
"Ini kan kamera otomatis. Kalau lensanya tertutup tidak akan bisa dipencet tombolnya," jelas Mita. Ia sudah tidak sabar lagi ke luar rumah. Sambil menenteng kamera barunya, Mita berkeliling di Kampung Cemara.
Wini yang sedang keselek makan bakso langsung difotonya. Klik! Dodi yang sedang kesakitan kena lempar bola kasti. Klik! Toto yang sedang diseret ibunya untuk mandi sore. Klik! Andi yang terbirit-birit dikejar anak anjing. Klik! Lupita dengan sepeda roda tiga adiknya. Klik! Klak! Kluk! Klok! Tidak terasa Mita seharian telah menghabiskan satu gulungan film.
Mita terpaksa membuka celengannya untuk mencuci dan mencetak film. Tak apa-apa, nanti aku kan mendapat gantinya, pikir Mita yang sudah punya rencana. Selain itu ia memang sudah tidak sabar melihat hasil foto buruannya.

Di rumah Ugi dan Tio tak hentinya tertawa melihat foto-foto yang dipamerkan Mita. Semuanya begitu lucu.

"Lantas mau dikemanakan foto-foto ini?" tanya Ugi.
"Tunggu saja besok. Aku akan menjadi kaya karena foto-foto itu," pikiran Mita melayang jauh.
Besok siangnya selepas sekolah Mita langsung mendatangi teman-teman yang difotonya satu persatu. Hampir semuanya langsung pucat dan malu melihat hasil foto Mita.
"Jangan takut aku tidak akan menunjukkan foto ini pada orang lain. Pokoknya aku tunggu sore nanti di rumah untuk menebus foto ini," kata Mita kemudian.
"Wah, ini namanya pemerasan," kata Dodi.
"Ih, memangnya baju diperas segala," timpal Mita tidak mempedulikan.
Karuan saja teman-teman Mita jadi saling mengunjungi. Mereka kemudian berkumpul untuk memecahkan persoalan mereka. Yang jelas mereka tidak ingin Mita mendapat untung sementara mereka mengalami kerugian yang memalukan.
"Kita biarkan saja foto-foto itu. Jangan ada yang menebusnya. Nanti dia akan mengulanginya lagi," usul Toto.
"Tapi bagaimana kalau fotoku tersebar kepada anak-anak yang lain?" keluh Wini yang menyadari betapa jelek wajahnya di foto itu.
"Ya, kita ingatkan teman-teman yang lain agar tidak melihat foto-foto kita. Diberitahu saja bahwa mereka juga nanti akan mendapat giliran," sahut Andi.

Semua akhirnya bersepakat untuk tidak menebus foto mereka ke rumah Mita. Sementara Mita terbengong-bengong di rumah menunggu kedatangan teman-temannya. Rupanya cita-cita Mita jadi paparazzi tidak terkabulkan.
Kling klong. Bel rumah berbunyi. Mita dengan penuh harap memburu pintu depan. Ia mengintip dari jendela. Mukanya mendadak pucat ketika mengetahui yang datang ternyata dua orang lelaki berseragam polisi. Mita membatalkan niatnya membuka pintu.
"Ma, ada tamu di luar," teriak Mita di depan kamar Mama. Ia sendiri kemudian masuk ke dalam kamar. Mengapa ada polisi datang ke sini? Mita membatin. Jangan-jangan teman-temannya melaporkan kegiatannya ke polisi? Ah, masak sih sampai sejauh itu.

"Mita ... Mita," seru Mama terdengar dari luar kamar.
Mita bukan keluar kamar, malah masuk ke kolong tempat tidur. Tubuhnya seperti kian menciut ketika Mama masuk ke dalam kamar.
"Mita di mana kamu? Itu ada Pak Polisi mencari kamu. Aduh, sedang apa kamu di kolong ranjang, Mita? Nanti ada kecoak baru tahu rasa!" ujar Mama yang menemukan Mita saat berjongkok.
Mendengar Mama menyebut kecoak, Mita langsung ke luar dari kolong ranjang.
"Mau apa Pak Polisi mencari Mita, Ma?" tanya Mita kemudian.
"Kamu pasti belum mendengar berita pencurian di rumah Pak Broto kemarin. Nah, Pak Polisi itu sedang menyelidiki pelakunya. Tadi Pak Polisi sudah wawancara beberapa orang. Ternyata Andi memang melihat ada mobil berhenti di depan rumah Pak Broto. Tapi karena ia sedang dikejar anjing, Andi tidak begitu mengingat persis mobilnya. Lantas Andi menyebutkan bahwa kamu juga ada di sana saat itu. Malah sempat memotret di sana," tutur Mama.

"Mobil di depan rumah Pak Broto? Tunggu sebentar. Kalau tidak salah mobil itu terfoto kemarin." Mita segera memeriksa hasil fotonya kemarin di atas meja. Diambilnya foto saat Andi dikejar anjing. Di bagian pinggir foto itu jelas terlihat sebuah mobil berwarna coklat dari belakang terparkir di depan rumah Pak Broto. Nomor plat mobilnya meski kecil masih dapat dilihat. "Ini fotonya, Ma. Biar Mita yang berikan kepada Pak Polisi."

Mita mengikuti Mama ke ruang tamu. Kali ini ia tidak cemas lagi. Malah Mita memberanikan diri bercerita panjang lebar mengenai foto hasil bidikannya itu.
"Boleh kami minta foto ini untuk bahan penyelidikan?" pinta Pak Polisi kemudian.
"Wah, sebenarnya foto ini mau saya jual, Pak," kata Mita.
"Mita, masak untuk kebaikan mau kamu jual juga. Biar nanti Mama yang ganti," sela Mama.
Mita tersenyum. "Tidak usah, Ma. Pak Broto kan orangnya sering menolong. Mita dengan senang hati juga mau menolong," timpal Mita kemudian.

Kedua Pak Polisi itu segera pamit. Mita kembali ke kamarnya dengan hati riang. Biarlah teman-temannya tidak perlu menebus foto-foto mereka, Mita berniat memberikannya secara cuma-cuma. Namanya juga paparazzi kampung. Yang jelas ia merasa bangga bisa membantu Pak Polisi menangkap pencuri di rumah Pak Broto.

Dari webarchive pacific.net.id, arsipan 14 Februari 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar