Seperti biasa hari Sabtu, sepulang sekolah, Marko ke rumah Mas Budi, abangnya. Oleh Mas Budi, Marko disuruh melihat-lihat lukisan-lukisan hasil lomba melukis yang diadakan Sanggar Rahayu. Dewan juri, yang diketuai Mas Budi, telah menetapkan enam finalis untuk juara I sampai harapan III. Rencananya penyerahan hadiah akan dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun I Sanggar Rahayu yang jatuh pada tanggal 28 Februari 2000.
"Lihat-lihat saja Marko. Siapa tahu bakat detektifmu bisa menemukan keanehan dalam lukisan-lukisan itu," kata Mas Budi.
Marko memang dikenal sebagai detektif cilik di lingkungan rumah maupun di sekolahnya. Ia pernah berhasil menemukan perhiasan Ibu yang kelupaan ditaruh di mana hanya dengan memancing-mancing pertanyaaan kepada Ibu. Ia pernah berhasil menjebak pencuri uang Pak Bandi, wali kelasnya. Dan masih banyak lagi perkara-perkara yang dipecahkannya.
Marko meneliti lukisan-lukisan itu. Hampir semua bagus. Marko sendiri bingung menentukan juaranya. Bosan melihat lukisan, ia melihat biodata yang tertulis di belakang lukisan. Matanya agak terbelalak membaca biodata salah seorang finalis lomba.
"Kenapa dia harus memalsukan data ini?" tanyanya dalam hati. Otaknya terus berputar." O, barangkali…"
Marko tersenyum. Ia mengambil brosur pengumuman lomba lukis itu. Dibacanya persyaratan lomba:
Syarat peserta lomba lukis:
- Umur peserta dibawah 10 tahun (belum berulang tahun ke sepuluh pada tanggal 28 Februari 2000)
- Lukisan harus asli (bukan meniru)
- Mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 10.000," (Sepuluh ribu rupiah)
- Membawa peralatan sendiri pada saat lomba
- Keputusan dewan juri mutlak, tidak dapat diganggu gugat
Senyum Marko bertambah lebar. Ia langsung menemui Mas Budi yang tengah membaca koran di teras rumah. "Saya tertarik lukisan ini, Mas!" katanya.
Mas Budi tersenyum. "Hebat! Lukisan itu memang terpilih menjadi pemenang pertama! Rupanya kamu punya selera seni yang tinggi."
"Tapi bukan itu masalahnya, Mas!"
"Lalu apa?"
"Pesertanya tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan."
"Persyaratan yang mana? Apa menurutmu ia meniru lukisan orang lain?"
"Bukan, bukan itu!" Marko membacakan biodata lomba peserta lomba itu.
Nama: Misbah
Tempat tanggal lahir: Tangerang, 29 Februari 1990
Alamat: Jl. Kesehatan No.1.
Selesai membaca biodata itu, Marko menyatakan alasannya kenapa Misbah tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. "Memang belum tentu ia tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Tetapi yang pasti ia telah membuat biodata palsu," kata Marko dengan yakin.
Marko menyarankan Mas Budi agar juara yang ditentukan sementara dinyatakan sebagai nominasi dan dewan juri supaya mempersiapkan satu orang nominator lagi sebagai juara harapan III. Siapa tahu, Misbah memang tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan. Marko juga menyarankan agar para nominator menyerahkan akte kelahiran atau bukti kelahiran dari rumah sakit atau bidan. Permintaan tertulis itu ditandatangani oleh ketua dewan juri dan akan diantarkan langsung oleh Marko. Mas Budi menyetujui usul Marko ini.
Jam empat sore, dengan mengayuh sepeda, Marko mengantarkan surat kepada para nominator seperti yang disarankan. Tentu saja yang pertama-tama dituju adalah rumah Misbah.
Misbah sedang menyiram bunga di halaman rumah ketika Marko sampai di sana. Setelah Marko menyampaikan maksudnya, Misbah memperkenalkan diri bahwa dialah yang Marko cari. Misbah segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Marko untuk duduk di kursi teras rumah.
"Aduh, sayang aku tak punya akte kelahiran atau surat kelahiran," kata Misbah agak gugup setelah membaca surat itu.
Bohong lagi! Marko berseru dalam hati. Tak mungkin orang tua Misbah yang mempunyai rumah sebesar ini, tidak mengurus akte kelahiran anaknya.
"Kalau begitu, kamu dinyatakan gugur dari nominasi. Kamu tidak akan menjadi salah satu pemenang."
"Ah, masak begitu."
"Ya. Kecuali kalau kamu menyerahkan fotocopy akte kelahiran atau surat kelahiran."
"Kalau begitu sudahlah. Tidak jadi juara pun tidak apa-apa," kata Misbah setengah kesal.
"Tapi rasanya tak mungkin deh, orang tuamu sekaya ini mengabaikan pembuatan akte kelahiran anaknya."
"Anu…. Bukannya tidak punya, tapi akte kelahiranku ada di rumah Nenek, di Surabaya."
"Misbah, kamu jangan terlalu banyak berbohong. Katakan saja kalau tanggal kelahiranmu bukan 29 Februari 1990."
"Betul. Itu tanggal kelahiranku!"
"Tapi bulan Februari 1990 hanya sampai tanggal 28. Tahu kamu, apa sebabnya Februari 1990 hanya sampai tanggal 28? Karena tahun 1990 bukan tahun kabisat. Tanggal 29 Februari hanya ada pada tahun kabisat, yaitu tahun yang habis dibagi empat, seperti tahun 1992, 1996, 2000 dan seterusnya. Nah, sebenarnya kamu lahir tanggal berapa?"
Misbah tampak pucat karena malu setelah mendengar penjelasan Marko.
"Benar kan kamu telah membuat biodata palsu?"
"Iya… saya mengaku telah membuat biodata palsu," kata Misbah terbata-bata. "Habis umurku melebihi persyaratan yang ditentukan. Sebenarnya aku lahir tanggal 3 Januari 1990. Aku memalsukan data itu supaya aku bisa ikut lomba."
Marko tersenyum mendengar penjelasan Misbah.
Dari Webarchive pacific.net.id, arsip per tanggal 16 April 2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar